9 Februari 2017

Singapore Jalur Backpacker (part 3)





 Aroma Imlek di Chinatown

 
Chinatown food street di pagi hari

 
Berbeda dengan perjalanan beberapa tahun lalu yang menggunakan jasa private tour. Backpacker bersama suami kali terasa lebih menyenangkan. Saya jadi mulai paham alur, jalan dan paham cara bergerak di Singapura. Kurang lebih pukul 10.30 kami sampai di St Chinatown. Kami bergegas keluar dan mengaktifkan google map untuk mencari hostel yang sudah kami booking. Tak berapa jauh berjalan, kami melewati Chinatown foodstreet. Terlihat di kanan kiri beberapa stand makanan lengkap dengan harga-harga, di sekitar stand terdapat meja kursi untuk pengunjung yang juga sudah penuh terisi. Kami tak sempat mencicipi apalagi meneliti tulisan pada menu di samping kanan dan kiri. Kami sengaja tak mampir, rencana kami ingin terlebih dahulu menuju hostel, menaruh beberapa barang dan keluar kembali dalam keadaan ringan.


Sebelum sampai di penghujung pesta kami sudah menemukan nama Burrow. Bergegas kami mencari jalan masuk yang memang kecil dan sedikit tertutup keramaian. Setelah tangga lantai ke tiga kami menemukan pintu masuk. Di resepsionis 2 orang wanita tengah berbincang dengan petugas jaga. Si petugas wanita meminta saya menunggu. Ruang tunggu hostel terasa akrab dan tidak kaku. Seorang bule yang tengah berbaring di sofa merah bergegas bangkit dan mempersilakan jikalau mau duduk di sebelahnya. Saya memilih ndlosoran di lantai dekat dengan buku-buku. Itu pertama kali saya menginap di hostel dan tahu bahwa masing-masing hostel menata diri secara berbeda-beda.

Ruang tunggu hostel burrow

 
Spot baca *love*

Hostel kami berfasilitas standar. Kami membayar 472ribu rupiah untuk 2 bed (atas-bawah) selama satu malam. Harga tersebut sudah termasuk murah mengingat letaknya yang strategis. Yang jelas, di Singapore kelas hostel sudah bisa dikatakan bersih. Saya mulai membiasakan bila bepergian -apalagi waktu weekend- untuk terlebih dahulu booking dan bayar hotel secara online. Apalagi sekarang banyak sekali aplikasi travel yang memudahkan untuk cari dan booking hotel dengan harga yang variatif. Kami menggunakan traveloka sebelum berangkat. Keuntungannya, kami bayar masih dalam rupiah dan aman, kami tak perlu takut kehabisan kamar.



Bed yang kami sewa


Setelah hampir tengah malam kami baru dapat kamar. Karena bersama suami, kami memilih kamar campuran. Meski sedikit risih satu kamar bersama pria-pria asing tapi itu lebih baik daripada kami harus terpisah (efek penganten baru). Kesepakatan awal saya tidur di atas, tapi rupanya bed atas berada tepat di bawah kipas angin, saya pun minta yang di bawah. Suami sibuk sendiri menutup bed bawah dengan kain seadanya, tak rela istrinya tidur dilihat pria asing. Ketika saya minta kami seranjang ia menolak, katanya malu. Lah kan sudah sah ya, lagian apa kita berniat begituan di sana?

Suasana kamar


Pihak hostel menerangkan berbagai hal seperti tempat mengambil cup, piring, sendok, air panas gratis, teh, kopi dan toilet yang letaknya terpisah dari semua kamar. Mereka juga menjelaskan mana yang gratis dan mana yang harus bayar. Di hostel kami harus mandiri, selepas membuat teh, cup dicuci dan diletakkan pada tempatnya, berlaku juga untuk makanan lain. Apa yang seperti ini patut untuk diceritakan? Harap maklum karena itu benar-benar pengalaman pertama saya di hostel. Rupanya menginap di hostel itu selain harga yang cocok dikantong juga menyenangkan.

Small kitchen bersama



Setelah menyantap pop mie yang memang sengaja saya bawa banyak, beberapa sari roti dan teh panas, kami kembali turun untuk menengok jalan. Siapa tahu masih kebagian pestan makanan china di bawah. Sayang hujan datang dan banyak stand sudah tutup. Kami kebagian becek dan lalu lalang yang mulai meredup satu demi satu. Yah, setidaknya kami sempat mengunjungi beberapa toko oleh-oleh sebelum mereka tutup. Harga di Chinatown sama halnya di Bugis Street, murah dan cocok di kantong. Harga oleh-oleh tas Singapore masih dengan 3 tahun lalu 10$ untuk 6 tas, bedanya 1 dollar kala itu masih di angka 6000an sementara sekarang hampir 10 ribu. Mengingat ini tahun ayam, banyak sekali toko di sana yang menjual pernak-pernik berbentuk ayam.



Salah satu toko oleh-oleh

 
Pernak-pernik imlek
Jadi, menurut saya, poin-poin penting kalau mau backpacker ke Singapura adalah prepare google map offline, mencari tahu kondisi dan info mobilitas di sana, memilih dan membooking hostel sebelum berangkat lalu print out biar aman, lalu yang satu ini klasik tapi masih berfungsi, bawa pop mie dan roti yang banyak (sejauh ini saya selalu coba dan berhasil), itu semua di luar dokumen-dokumen wajib secara umum seperti paspor, KTP dll. Lebih dari itu, tersesat di sana tentu menyenangkan.

Salaman





1 Februari 2017

Singapore Jalur Backpacker (Part 2)





Transportasi ala Singapore



Hal pertama yang patut dibanggakan dari Singapura tentu saja akses transportasi yang mudah dan maju. Setelah berlabuh di Pelabuhan Tanah Merah dan menghabiskan banyak menit di bagian imigrasi, saya dan suami bergegas mencari minimarket terdekat untuk membeli Ezlink card untuk naik MRT dan Bis. Harganya 10 dollar  per kartu dan di dalamnya sudah termasuk isi 5 dollar. 

GTM ( General Ticketing Machine) bisa top up kartu di sini


Kami ke luar menuju halte bis yang berjarak sekitar 15 meter dari pintu ke luar. Berbeda dengan bandara Changi yang langsung terhubung dengan MRT, dari pelabuhan Tanah Merah, kami harus naik bis terlebih dulu untuk menuju ke stasiun Tanah Merah. 

St Tanah Merah


Hanya sekejapan kami sudah sampai di St Tanah Merah. Dari sana kami langsung menuju St Chinatown. Bagi yang sudah sering menggunakan Commuterline di Jakarta pastilah tidak kesusahan mengikuti alur MRT. Misalkan bingung bisa tanya ke petugas jaga atau orang lewat.  Supaya lebih mudah lagi, kamu bisa install beberapa aplikasi tanpa bayar dari play storemu seperti ; Singapore MRT, Singapore Offline MRT Map,dll sebagai panduan penggunaan MRT.  Cara mudah membaca Map MRT adalah perhatikan jalur warnannya. Misal kamu ingin ke stasiun Little India, di map, stasiun tersebut berwarna ungu dengan kode NE7 maka, kamu ikuti jalur petunjuk warna ungu dan naik MRT dengan kode NE berwarna ungu.

MRT Map ada di setiap stasiun

Menuju Gate


Hampir seluruh mobilitas kami di sana menggunakan MRT. Selain mudah juga murah. Tentu harganya jauh di bawah sewa taksi. Mapping sebelum berangkat juga sangat penting. Setidaknya untuk menentukkan letak paling strategis untuk menginap, tidak terlalu jauh dari stasiun dan dekat dengan beberapa titik penting seperti masjid, stasiun atau tempat tujuan tertentu. Saya memilih menyewa hostel di daerah Chinatown karena dekat dengan pusat belanja chinatown, merlion park, masjid dan St Chinatown.

Sejauh ini, kebanyakan backpacker lebih suka memilih hostel di daerah little India karena harganya cukup murah. Itu tak jadi soal asalkan kamu cukup punya banyak waktu. Untuk saya yang saat itu tengah diburu waktu, saya lebih memilih yang paling dekat dengan tempat-tempat yang akan saya kunjungi.

 Waktu yang kami miliki cuma 1 hari 1 malam. Sungguh waktu yang sangat tidak cukup sekalipun hanya untuk mencicip beberapa menu di Chinatown.

Pagi hari kemudian kami harus menuju USS dan menghabiskan hari di sana. Untuk ke sana kami berangkat menggunakan MRT dari St Chinatown yang kami tempuh dengan berjalan kaki menuju ke St Harbourfront. Sampai di St Harbourfront kami menyeberang ke Sentosa Island menggunakan Sentosa ekspress. Letaknya 3 lantai di atas St Harbourfront.  Tarifnya juga cukup murah, kalau tidak salah hanya 2 dollar.

Kurang dari 5 menit kami sudah sampai di Waterfront yang terletak tidak jauh dari pintu masuk USS. Di sana kami tak lagi perlu mengantri tiket, karena suami sudah membeli sebelumnya via online. Hitung saja harganya sekitar 500 ribu per orang. Ini tidak wajib, misalkan kamu ingin ke Sentosa tanpa masuk USS juga bisa. Ada pantai gratis yang menanti untuk dinikmati, atau bisa sekadar foto di depan simbol USS atau jalan-jalan di sekitar.

Di sana kami kecewa karena tak bisa menjajal seluruh permainan. Sepertinya kami butuh waktu sehari full dengan tiket khusus untuk  bisa menjajal seluruh permainan. Bayangkan, untuk 1 permainan transformer ride saja kami butuh mengantri 40 menit. Suami sudah mulai terlihat capek ketika mengantri namun kembali ceria setelah menyeleseaikannya. Katanya, “nggak percuma ngantri sejam.” Judul hari itu, “Yang Penting Suami Senang.” Ya jelas suami, wong istri ngajak foto di Far Far Away saja gagal karena panas.

Sehari semalam sudah kami makan tak layak, siang itu saya minta makan nasi, pokoknya nasi, lapar tak karuan dan benar-benar tak tahan. Harga makanan USS tentu tak cocok dikantong backpacker, kami menghabiskan 30 dollar, itu senilai 300ribu untuk 1 porsi nasi rendang tambah telur tanpa rasa dan 1 porsi nasi ayam tambah telur tanpa rasa plus gratis cola 2 gelas.

Makan siang ala USS


Pukul 2 kami keluar USS dan bergegas kembali ke stasiun agar tidak lebih kecewa karena terlambat check in seperti sebelumnya. Kami kembali menuju Harbourfront dengan Sentosa Ekspress. Dari sana kami mencari jalur hijau yang menuju ke St Tanah Merah. Kami sudah tak punya banyak waktu. Bahkan untuk berhenti sejenak dan membeli oleh-oleh di pasar. 

Perjalanan pulang menuju St Tanah Merah

Petunjuk peringatan di MRT :) LUCU


Perjalanan dari St. Harbourfront sampai St Tanah Merah adalah perjalanan MRT paling lama yang kami tempuh di sana. Di perjalanan kami berbincang mengenai biaya hidup di sana, kemudahan akses transportasi, jalanan yang teratur, toleransi antar sesama dan lain-lain. Sepertinya saya menangkap aroma keinginan untuk kembali berkunjung dari teman seperjalanan saya.

“Ehm... nggak pengen pindah kerja di sini aja?” kata saya menggoda tapi penuh harap.
“Eemmm....enggak dulu lah,” jawabnya. Yah, pendengar kecewa.

Btw kami menghabiskan kurang dari 10 dollar / orang untuk seluruh mobilitas di Singapura (di luar harga tiket kapal).

To be continue.... part 3

Part sebelumnya -> Singapore Jalur Backpacker (Part 1)

Review Novel To Kill A Mocking Bird

Doc. irerosana Perlu waktu yang tidak sebentar bagi Amerika untuk mendewasakan diri, menerima bahwa warna kulit bukanlah sesuatu ya...