2 Desember 2016

Salam Sayang untuk Raden Mandasia, si Pencuri Daging Sapi





Doc pribadi








Biasanya sebagai pengantar, ada kalimat nendang yang sengaja dipilih oleh si pemberi ulasan, maka dari itu, saya akan mencantumkan ini sebagai pembuka :

Sesuatu yang sempurna tak punya hasrat lagi mencari
Alasannya, suka aja sih.

Lebih nyaman bilang “Owww..damn!” ketimbang membuat review setelah menyelesaikan Raden Mandasia, si Pencuri Daging Sapi. Buku ini renyah sekali.  Judulnya menggelitik, Karakter-karakter tokohnya membuat wanita tergila-gila. Tergila-gila di sini ibarat Nyai Manggis yang rela memberikan 'kenangan manis' untuk Sungu Lembu. Siapa mereka? Tokoh-tokoh dalam novel ini yang menggugah semangat hidup pembaca. Imajinasinya unik, tidak monoton dan berlimpah ruah. Mas Yusi tidak pelit menebar imajinasi pula twist. Banyak sekali kejutan yang seolah diciptakan untuk memanjakan pembaca.

            Untuk beberapa kalangan memang sedikit vulgar, tapi saya menyantapnya sendiri. Sebagai manusia normal, yang tak perlu diperdebatkan dan tolong jangan ada yang mendebat. Bacaan bacaan telanjang seperti itu adalah penyeimbang kehidupan normal. Ada suatu kelegaan setelah membacanya, seperti sebuah pembelaan bahwa saya manusia normal. Tak bisa dipungkiri, terkadang saya merindukan mengumpat seenak hati di private chat bersama kumpulan perempuan-perempuan gila itu. Tentu bukan bermaksud  mengumpat, melainkan penyedap yang menyenangkan dan tentu tak ada satu hati pun tersakiti.  Itulah mengapa saya suka ketika Sungu Lembu mengumpat “tapir buntung!”.

            Entahlah, apa yang ada di pikiran Mas Yusi ketika menciptakan tokoh loki tua yang melatih kedua anjingnya untuk saling menjilati dubur satu sama lain guna mempertahankan hidup , 2 orang pemuda yang tega meminta seorang kasim untuk merelakan dirinya dikuliti agar mereka dapat memakai kulitnya demi melancarkan penyamaran memasuki Gerbang Agung, penyerbuan kerajaan dengan melemparkan mayat-mayat busuk dari pihak prajurit mereka sendiri dan seorang ibu yang baru menyadari telah menikahi putra kandungnya sendiri setelah melahirkan ke-27 anaknya.

Tak melulu hal aneh, kalian akan menemukan ketrenyuhan ketika 2 orang pemuda yang telah melewati hari, dan petualangan bersama selama beberapa purnama, harus dipisahkan oleh maut. Ini adegan paling mengena buat saya. Dasar wanita! Lalu bagaimana semua itu terkait menjadi satu jalan cerita? Apa sekarang anda tengah gregetan dan ingin segera membeli bukunya?

Menceritakan detail cerita kepada kalian yang baru akan mulai membaca itu jahat, jadi biarlah misteri cerita Raden Mandasia terungkap dari lembar demi lembar halaman yang kalian biak. Rasakan setiap hentakan sambil berguling di kasur, buang hajat, atau malam mingguan bersama pacar.

Novel-novel penuh gairah hidup dan tidak membosankan merupakan konsumsi paling sedap yang sayang untuk dilewatkan. Dengan ini saya menempatkan Karya Mas Yusi ke dalam list wajib beli dan wajib baca, bagi saya pribadi.  Jadi, ini bisa dibilang juga salah satu amunisi yang akan mengembalikan lagi semangat menulis, atau justru malah melemahkan, karena setelahnya sadar, betapa ceteknya ide-ide yang selama ini saya kumpulkan.

Jadi tunggu apalagi? Cepatlah beli! Lalu katakan kepada teman di sebelahmu,

“Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekadar makan dan tidur sebelum disembelih.” -loki tua

Review Novel To Kill A Mocking Bird

Doc. irerosana Perlu waktu yang tidak sebentar bagi Amerika untuk mendewasakan diri, menerima bahwa warna kulit bukanlah sesuatu ya...