29 Agustus 2014

AirAsia - Love at The First Flight





Saya masih ingat betul hari, tanggal, rasa dan gimana deg-degannya saya ketika pertama kali naik pesawat. Tepatnya tahun lalu  tanggal 12 Maret 2013 pukul 7.15 am, beranjak dari Ahmad Yani-Semarang menuju Soekarno Hatta-Jakarta via AirAsia. Rasanya sewaktu masih menunggu keberangkatan itu gado-gado banget, penasaran...iya, takut...baget, exited...pasti, plus nervouse dan deg-degan macam mau bertemu calon mertua (orang camer aja belum punya). 

Sumber : Doc. Pribadi
Umur sudah seperempat abad tapi memang benar saya sama sekali belum pernah naik pesawat. Emm...takut jatoh, takut nabrak, takut ketinggian, takut ketembak pesawat jet lain (korban PS -_- ) emmm...tapi itu semua salah, yang benar adalah takut harganya selangit, hehehe. 

Dan.... semua berubah ketika iklan promo AirAsia menyerang.....

Sumber : zamzamtiketonline.blogspot.com


Waktu itu saya tengah bersantai di ruang tengah bersama keluarga, tiba-tiba sinetron favorite emak saya terpotong iklan, dan suara itu pun datang “Harga mulai 99 ribu...” (Seingat saya begitu) langsung saya ambil tissue dan mengelap-elap monitor Televisi saya. Bonyok terbengong-bengong melihat kelakuan saya. “Kali aja ini layar sudah lama ndak di lap jadi mengaburkan angka-angka.” Masa’ iya naik pesawat cuma segitu? Ah, pasti ini strategi marketing doang, atau saya kudet karna juga belum pernah naik pesawat.

Semenjak itu AirAsia hadir di mimpi-mimpi saya, saat ke toilet, saat mau makan, mengerjakan laporan, bahkan saat saya kencan #eh. 

Ternyata tak hanya AirAsia yang pamer kemurahan (eh, maksud saya promo) tapi USS juga tak mau ketinggalan melambai-lambaikan tangan. “Hayooh... sini sayang....muah..muah...” begitulah yang terjadi di mimpi saya. Akibatnya saya dan teman saya jadi berfikir, kenapa mereka tidak jadian saja?!  Itulah ide tercemerlang kami waktu itu. Setelahnya, langsung cap cus, kami menyusun strategi perang untuk menakhlukkan USS dengan bantuan armada AirAsia. Ide perjodohan ini harus berhasil, pikir kami. We want USS, We want Singapore! (sembari berteriak-teriak dengan kepala dibalut tulisan ‘ganbatte’ di depan cermin kamar. 

Setelah itu, kami membagi tugas, memantau promo tiket hingga membookingnya, memantau tour hingga merayu embak-embaknya biar dikasih murah, memantau dollar hingga merayu mas-masnya, siapa tahu harganya jadi turun (yang ini pastinya gagal). 

Kala itu bulan Januari 2013, penerbangan Semarang-Singapore belum dibuka, jadi mau tak mau kami harus berangkat lewat Jakarta. Dapat jadwal terbang paling pagi memang mendebarkan.  Sesuai instruksi yang ada bahwa harus ada di bandara 2 jam sebelum keberangkatan, sebagai orang awam yang taat aturan dan takut ditinggal terbang, jadilah saya berangkat pukul 4.30 (Hoaaammm....masih ngantuk) saya bahkan lupa kala itu mandi pagi dulu atau langsung berangkat.  Nasib saya tidak lebih mengerikan dibanding teman saya naik travel dari Jogja pukul 2.30. 

Sumber : Do. Pribadi
 
Sebagai orang awam dan penumpang yang baik pula saya tidak membawa tas besar, sudah saya cari tahu di google seberapa besar bagasi pesawat, dari hasil penelitian dan perkiraan saya, tas saya tidak akan muat masuk bagasi, akhirnya saya putuskan untuk meminalisir jumlah tas. Ndilalah...sampai hari H tiba dan melihat langsung besarnya bagasi ternyata......saya sungguh SANGAT menyesal meninggalkan tas besar saya, hufft... itu bagasi masih muat buat travel bag ukuran sedengan tau! 

Dan....finally...12 Maret 2013 pagi, di saat semua teman kantor saya sibuk bekerja, saya merasakan sensasi terbang untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Hmmm....tarik napas.

Sumber : Doc. Pribadi

 “How’s your first flight?” tanya teman saya. Saya cuma bisa menarik napas panjang, Yeeeaaah..I’ve done it! Gugurlah ungkapan ‘belum pernah naik pesawat’ yang selama ini melekat pada tubuh saya, hehehehe.... 

Hmm..... tarik napas dan mari menunggu penerbangan berikutnya!

Belum selesai saya di manja AirAsia, penerbangan berikutnya lebih mendebarkan, dari Soekarno-Hatta kami bertolak ke Changi, Singapore. Pastinya hari itu juga menjadi tonggak sejarah klayapan nekat saya karena untuk pertama kalinya harus menginjakkan kaki di negeri orang.  Sehari bersama AirAsia 3 tempat terlalui Semarang- Jakarta- Singapore. Kala itu kami dapat tiket promo, per orang PP Jakarta – Singapore CUMA kena 800 ribuan. 

Sumber : Doc. Pribadi

Dan....Jadilah... AirAsia saksi sekaligus pemprakarsa perjalanan nekat serta angan-angan liar saya.

Sumber : Doc. Pribadi

Setelahnya, banyak teman-teman yang iri dan mulai memantau promo AirAsia, yang belum pernah naik pesawat juga jadi penasaran untuk menjajalnya. Serasa jadi inspirator! Hmmm...tarik napas lagi.

Semenjak itu, pikiran-pikiran nekat untuk menyalurkan hobi travelling selalu bermunculan, sesuatu yang dulunya tidak mungkin menjadi mungkin sekali. 

Kadang kita memang punya hobi aneh dan nggak mungkin, tapi yang perlu kita lakukan hanya percaya pada pikiran kita dan hajaaarrr!!! 

Dengan berakhirnya cerita tadi, saya masih ngarep AirAsia menjadi partner sejati, sejiwa dan seraga dengan menjadi perantara dan alasan utama saya menginjakkan kaki di Nepal untuk pertama kalinya nanti. *Big smile*

 Tarik napas.....oyeaahh! Thank you www.airasia.com


27 Agustus 2014

Saya Masih Ada


Sumber : Doc. Pribadi


Melihat 2 blog saya yang sepi akan timbul pertanyaan ‘apa saya tengah jenuh menulis?’ atau berniat mengundurkan diri dari dunia literasi? Jawabnya tentu saja ‘TIDAK!’. Saya tidak pernah meninggalkan tulisan barang sedetik pun! Bahkan mimpi itu masih terasa, masih menghantui dikala saya beranjak dan bangun dari tidur samban harinya.


Memang saya tengah sibuk dengan job menulis offline di koran lokal.  Biarpun tidak rutin juga tapi bila dikumpulkan tetaplah lumayan menjawab betapa saya masih benar mencintai dunia ini.  Posting ke blog? Hmm.... saya kurang tahu apakah tulisan yang sudah saya kirim dan cetak offline bisa di posting ke blog atau tidak, tapi agaknya itu menjadi sebuah pertanda kelumpuhan atas kemampuan saya memenuhi blog pribadi. Saat ini saya cenderung menghindarinya.


Saya sadar tidak akan berada di lapangan selamanya. Kelak, akan ada satu waktu di mana saya hanya akan bercumbu dengan imajinasi dan materi yang saat ini tengah saya himpun. Kelak akan tiba suatu masa di mana saya hanya akan fokus dengan pekerjaan rumah dan menulis semata. Saat ini biarkan saya menikmati apa yang ada di hadapan saya. Biarkan saya memuaskan diri akan rasa skeptis ini. Biarkan saya membunuh sisa rasa jenuh atas ketidaksesuaian hati dan pekerjaan lalu.  Biarkan saya membalas dendam atas kekuarangan dan rasa sakit dulu di organisasi. 


Apapun keadaan, saya tetaplah dekat dengan tulisan. Sampai mati pun saya akan tetap dekat dengan tulisan.  Terima kasih.


Love you my dear with all of my heart -> someone who gives me chance to make it easier @petualangcilik.

26 Agustus 2014

Stasiun Langit






Lebih dari seperempat abad sudah aku hidup di bumi dan dengan sedikit malu aku menjawab pertanyaanmu,

 “Sudah pernah ke stasiun sebelumnya?”

Aku menggeleng, “ini pertama kalinya aku pergi ke stasiun.” Huft...

Memangnya aku harus pergi ke mana? Yang kutahu dunia hanyalah tanah yang sedang kupinjak ini.  Selebihnya entah apa! Aku lebih sering berpetualang dengan pikiranku sendiri.

Lebih dari yang kubayangkan, stasiun ternyata sungguh indah.  Orang-orang berlalu-lalang, menunggu, mengantri, bercanda dan berfoto bersama. Yang kulihat, stasiun langit begitu kokoh, tergurit dari arsitekturnya yang bernuansakan jaman kolonial. Entah paduan eksotisme langka dengan modern, entah malam memang sedang syahdu-syahdunya ataukah kebersamaan kita yang begitu sendu. 

Berpisah...

Adakah kata lain yang lebih memilukan daripada yang bermakna ‘perpisahan’? Di stasiun aku terserang virus dadakan. Basuhan kegelian dan keheranan, lucunya mata ini perlahan sembab. Stasiun tua ini rupanya tahu aku si pendatang baru. Seperti sudah ahli, mengerjaiku dengan perasaan sedih dengan merambatkannya, pelan. Waktu yang menyempit berpadu dengan suara pengeras yang berteriak memanggil orang untuk merapat dan siap diberangkatkan. Sinergis sekali mereka mengerjaiku, membuatku berdebar dengan balutan pilu!

“Kenapa?” tanyamu lirih saat melihat gelagatku semakin aneh.

Aku teringat seorang temanku, yang tengah hamil besar. Kala itu ia tengah mengantarkan suaminya ke Bandara. Rasanya ingin tertawa bercampur malu waktu aku membully-nya.  Malu karena kepiluan ini ternyata tidaklah seberapa. Malu karena ternyata aku pun bisa secengeng ini. Miris rasanya membayangkan temanku menghadapi itu, sendiri...

“Mas jangan pergi,” ucapku lirih sembari menyandarkan kepala ke bahumu. Apa aku perlu memeluk dan menggenggam tanganmu erat-erat agar kau tak pergi? Dan pilu pun semakin menjadi-jadi! Stasiun ini sungguh ahli benar mengerjai tamunya yang awam. 

Kuperhatikan orang-orang sekitar, tak ada yang serapuh aku. Apa wajah stasiun selalu begini? Atau aku yang awam dengan perpisahan? 

Aku menyesap setiap detik sisa waktu kita, hingga pengeras suara itu mencuri perhatianmu dan menarikmu untuk beranjak, lalu menjauhiku. Kita pun saling menjauh dan kembali menggenggam rindu.

Terimakasih sudah datang di Semarang.
 Tawang, 25 Agt 2014.

Review Novel To Kill A Mocking Bird

Doc. irerosana Perlu waktu yang tidak sebentar bagi Amerika untuk mendewasakan diri, menerima bahwa warna kulit bukanlah sesuatu ya...