29 September 2013

Sebuah Hati Untuk Praba




Tangan Uli sigap membuka buka data kartu anggota perpustakaan.  “P” dia menuju abjad P. Dibukanya dengan teliti satu per satu kartu peminjaman buku yang berinisial hurup P. Pa...Pe....Pi...Pra...nah ketemu. “Praba Pradita Aji”. Uli mengecek list buku peminjaman terakhir. 10 Juni  2013, harusnya ke dua buku yang dipinjam sudah kembali, ini kelewat 2 bulan sudah. “Hufftt...” Uli menghela napas.

Uli memandangi kartu putih di tangannya, No. 1246. Melirik sebentar ke arah foto 2x3 di sudut kiri kartu. Menyadari ada yang berdesir di bagian hatinya,buru-buru Uli mengalihkan pandangan ke daftar list buku pinjam yang tertera di bawah kop kartu.  

No
Judul Buku
Tgl Pinjam
Tgl kembali
1
Konspirasi Lapindo
02/03/2013
09/03/2013
2
12/03/2013
19/03/2013
3
Tifa Penyair dan daerahnya
27/03/2013
03/04/2013
4
Layar Terkembang
15/04/2013
22/04/2013
5
Angkatan 66:Prosa dan puisi jilid 2
25/04/2013
02/05/2013
6
07/05/2013
14/05/2013
7
10/06/2013

8
Catatan seorang Demonstran
10/06/2013


Pemilih kartu tersebut mencuri perhatian Uli. Bukan! Bukan Cuma perhatian, tapi juga, hati Uli.  Seorang pria yang aneh, batin Uli.  Dandanan serba cuek, kaos oblong, jeans yg menyempit pada pergelangan kaki, sepatu snakers, dan sebuah tindik warna hitam ada pada daun telinga sebelah kirinya.  Mukanya lumayan untuk menakhlukan hati para wanita. Tapi bukan karena itu Uli jatuh cinta.  Awalnya Uli hanya penasaran, anak dengan penampilan seperti itu, tidak sebaiknya berada di perpustakaan.  Tapi kenyataanya dia ada di sana. Dengan buku-buku pinjaman yang bisa dibilang, lumayan.

1 meter di balik rak-rak buku sastra. Tengah membolak-balik sebuah buku yang kemudian judulnya tertangkap oleh mata Uli “Pada Sebuah Kapal”. Oh, buku NH.Dini, pikir Uli. Itu awal pertama kalinya Uli melihat Praba. Lewat kesan yang aneh, yang kemudian berlanjut pada rasa penasaran. 

Mungkin dia mahasiswa jurusan Sastra, eh bukan, Ekonomi, eh mungkin juga Psikologi, terka Uli. Apapun dia seleranya, lumayan. Apapun dia, yang jelas telah membuat seorang Uli tersenyum sendiri tanpa sebab yang jelas, bersemangat berangkat kerja, dan terkadang menangis karena tak kuasa menahan rasa rindu yang Ia himpun sendiri.

Hari-hari Uli lalui dengan berangan tentang Praba, mencoba menerka karakteristiknya melalui kartu peminjaman buku, daftar buku yang di pinjam atau ketepatan waktu pengembalian. Praba termasuk orang yang on time. Tak pernah sekalipun terlambat mengembalikan dari jadwal yang sudah ditentukan. Namun, kali ini Praba sudah mengantongi denda Rp.12.000,- karena 2 bulan terlambat mengembalikan. Tentu bukan nominal denda yang mengganjal hati Uli. Tapi, dia mulai tak kuasa menahan gejolak rindu akan kehadiran Praba. 

Meski tak pernah berbicara, meski hanya menerima uluran bukunya, dan senyum terima kasih karena Uli sudah menyelesaikan administrasi peminjaman, Uli ikhlas, Uli puas.  Berarti sudah 2 bulan juga Uli tidak merasakan desiran hebat dari dalam hatinya ketika menatap punggung Praba menjauh selesai menyelesaikan administrasi peminjaman. Sudah 2 bulan pula Uli tidak mencuri-curi pandang ketika Praba tengah sibuk mondar-mandir mencari-cari sebuah buku, dari satu rak ke rak yang lain.

Padahal 2 hari lagi Praba ultah, begitu info yang tertera pada kartu anggota Praba. Uli sudah bertekad membuatkan sebuah puisi ulang tahun khusus untuknya. Kini puisi tersebut masih tersimpan rapi di balik lipatan notes Uli. Entah akan sampai kepada yang dituju atau akan mengering di dalam notes tersebut, tak ada yang tahu. Uli tak ingin berharap lebih, hanya memberikan ucapan tanpa nama kepada satu-satunya pria yang berhasil menawan hatinya. Uli tak ingin berangan jauh untuk bisa memiliki Praba, toh dengan melihatnya bernapas dan sehat itu sudah cukup. Tapi keinginan itu sekarang malah berbalik mengiris hati Uli, Praba  tidak datang.

2 hari Kemudian..

Praba datang. Tepat dihari ulang tahunnya. Uli kaget tapi juga gembira. 

“Mau mengembalikan buku,” kata Praba sembari tersenyum manis. Dada Uli berdesir kemudian tertunduk tak berani beralama-lama menatap senyum khas itu.

“Hm..sebentar saya cek dulu, “ basa basi Uli sembari mengambil data Praba. Tentunya Uli sudah hafal benar berapa denda, di mana letak datanya, dan buku apa yang Praba pinjam, tapi Uli berakting seolah dia pengunjung biasa seperti yang lainnya.
Uli sadar gerak tangannya diperhatikan Praba, dan itu membuatnya gugup. Dihentikannya aktivitas pencarian, lalu menatap balik ke Praba, 

“Duduk dulu,” sarannya lirih. 

Praba menurut dan duduk di kursi kusus peminjam.

“Terlambat 2 bulan, ya?” tanya Uli pura-pura.

“Iya Mbak, dendanya total berapa, ya?” Praba balik bertanya.

“Hm...jadi totalnya dua belas ribu,” jawab Uli.

“Oh iya..sebentar,” Praba meraih dompetnya dan mencari sejumlah nominal yang disebutkan.

“Ini, Mb” sembari menyodorkan uang Rp.20.000,-

“Kenapa terlambatnya lama sekali ya, Mas?” tanya Uli memberanikan diri dengan rasa penasaran sembari menerima uang tersebut.

“Iya, maaf Mb. Ada acara keluarga harus keluar kota jadi tidak bisa mengembalikan,” jelasnya.

“Oh, begitu. Ini ada yang mau diperpanjang atau mau pinjam buku lain,” tanya Uli datar.

“Pinjam buku lain aja, yang itu sudah selesai,” balas Praba masih dengan senyum khasnya. Praba beranjak dan menuju ke rak buku.  Diraihnya deretan rak psikologi. Entah buku apalagi yang dia cari. 

Uli mencuri pandang dari jauh, akhirnya dia bisa merasakan desiran itu kembali. Akhirnya setelah 2 bulan menanti, kini buncahan rasa rindu itu pun mulai terkendali. Betapa ingin Uli menghentikan waktu pada momen itu. Praba yang tengah mencari buku, dan Uli bisa memperhatikan dari jauh. Ingin rasanya membingkai momen tersebut. Uli tersenyum bahagia.

“Jadinya pinjam ini,” ucap Praba sembari menyodorkan sebuah buku, 

Pilihan yang bagus, batin Uli. 

Di sela-sela pengecekannya, terbesit untuk menyelipkan puisi yang khusus dibuatnya untuk Praba. Dia amati gerak Praba, menyadari sasaran sedang asyik mengamati deretan rak berjajar tak jauh dari tempatnya berdiri. Uli menarik napas, memantapkan hati untuk benar-benar menyelipkan puisi tersebut. Akhirnya batin Uli yakin, dan buru-buru menutup buku di tangannya agar tidak terlanjur berubah pikiran.

“Ini bukunya mas, sudah selesai,” suara Uli mengagetkan Praba.

“Oh, iya, terima kasih ya,“ lagi lagi ditutupnya dengan senyum manis yang membuat dada Uli berdesir.

Belum sempat Praba berbalik tiba-tiba suara menolehkan perhatian mereka

“Udah belom, Dit? Kok lama bener?” Praba menoleh ke arah sumber suara. 

Sesosok wanita menawan hadir dari balik punggung Praba. Wanita itu cantik, benar-benar cantik alami, penampilannya sopan dan elegan, tinggi semampai dan sepertinya, smart. Spontan muncul kecemburan dari hati Uli.

“Lhoh, Raya’! kan tadi aku suruh tunggu di bawah. Ini bukunya dah dapat,” ucap Praba seraya menyodorkan buku ke arah wanita tersebut. Seketika senyum ramah menghiasi wajah wanita cantik itu.

“Hm...kamu tau banget deh yang aku butuhin, oowwh jadi selama ini buku-buku yg kamu pinjami ke aku itu dari sini?” ucap wanita tersebut manja.

“Hm...iya. yaudah ayo berangkat keburu jam 2 acara hampir mulai,” ucap Praba sembari menggandeng lengan wanita itu dan berlalu.

Sejenak jantung Uli berhenti berdetak. Uli merasakan sesak napas yang teramat, seperti ada sebuah batu menutupi saluran pernapasannya. Uli bingung, pikirannya campur aduk. Wanita cantik? Buku? Gandeng lengan? Manja? Apa maksud semuanya? Otak Uli mulai menyatukan potongan-potongan terkaan hasil imajinasinya. Sebuah cerita sudah bisa Uli tebak namun sekuat tenaga ia tepis. 

Jadi selama ini, buku-buku itu, langkah dia menginjakkan kaki di perpus itu, adalah untuk wanita itu? Batin Uli kembali teriris mengingat kedekatan mereka. Mengingat tangan Praba menyahut lengannya dan wanita itu menyambutnya  dengan berucap  manja. Uli menghentikan imanjinasinya, Uli takut semakin sakit. Uli tak kuasa menahan tangis, sekuat tenaga dia berusaha untuk menahan air matanya keluar tapi, tetes demi tetes butiran itu tak bisa dia kuasai. Buru-buru Uli mengusap air matanya sembari memastikan tidak seorang pengunjung pun menyadari air matanya. 

Kertas! oh Tuhan, kertas itu masih ada dalam buku yang mereka bawa. Uli mulai panik, bingung harus bagaimana. Semua seakan sudah terlambat, terlambat untuk mengambil kertas itu dan terlambat menyadari betapa Praba yang terlanjur dia cintai adalah milik orang lain. Seorang wanita yang 100 kali lebih baik dari dia. Dan wanita itu pasti membuka dan membaca puisinya, oh! Uli benar-benar tidak bisa membayangkan. Ia merasa menjadi wanita paling tolol sedunia. Sebuah cermin hatinya harus dibaca oleh orang yang menghancurkan cermin itu sendiri, dan bukan oleh Praba, seseorang yang menjadi alasan dibuatnya puisi tersebut.  Apa wanita itu akan mencibir? Menertawakan Uli dan bangga karena kekasihnya disukai oleh seorang penjaga perpustakaan? Apa dia akan cerita soal puisi itu ke Praba? Apa yang nanti Praba katakan saat dia mengembalikan buku? Betapa Uli ingin melarikan diri dari keadaan yang tengah menghimpitnya. 

Satu hari kemudian.

Praba datang dengan buku yang kemarin dipinjam. Uli mulai gugup. 

“Pagi...mau balikin,” ucap Praba kali ini dengan muka datar. 

Pasti Praba tau soal puisi itu. Uli mulai pasrah.

“Sebentar saya cek datanya, silahkan duduk, mas,” Ucap Uli berusah menenangkan diri.

“Tidak perlu cek, bukankah kemarin aku dari sini?” sergah Praba.

“Ohh...lalu kenapa baru sehari sudah dikembalikan, ya mas?” Ucap Uli lirih seolah tak tahu apa-apa.

“Saya cuma mau mengembalikan ini,” balas Praba seraya menyodorkan sebuah kertas. Tepatnya kertas puisi yang diselipkan Uli di buku Praba.

Uli tertunduk dan menerima uluran kertas tersebut.  Selama 1 menit mereka terdiam.

“Makasih ya, ucapannya. Aku baru tahu ternyata selain melayani pengunjung.....” nada Praba mulai meninggi, “Petugas di sini juga harus mengecek data pribadi anggotanya dan bahkan....” Praba menghentikan ucapannya.

“Bahkan harus memberikan perhatian khusus kepada anggotanya yang berlang tahun,” Praba menyelesaikan ucapanya dengan tegas dan memberi sedikit penegasan pada kata berulang tahun.

Uli masih terdiam, bingung dan takut. Belum pernah dia melihat Praba seserius itu, bahkan tanpa senyum. Uli merasa seperti akan di eksekusi mati!

Tiba-tiba Praba mengulurkan tangan.

“Kenalin, aku Praba Praditha Aji,” Uluran tangan Praba membuat Uli bingung tapi kemudian Uli pun segeramenyambut.

“Aku bukan kutu buku, dan aku kurang suka membaca buku. Aku mahasiswa jurusan seni rupa. Selama ini aku meminjam buku untuk saudariku Raya, cewek yang kemarin kamu lihat. ” Mereka melerai tangan satu sama lain.

“Dia sakit Liver, dan harus perawatan, dia suka membaca buku jadi aku berusaha mencarikan buku apapun yang dia minta. 2 bulan kemarin aku harus mengantarnya berobat ke Singapore, dan kemaren dia sengaja ingin ikut keluar karena aku berulang tahun,” jelas Praba.

“Harusnya kita berkenalan seperti ini supaya kamu tidak berasumsi sendiri tentang aku,” tambah Praba.

“Maksudnya..?” tanya Uli bingung. Oh jadi kemarin itu saudarinya? shit!

“Maksudnya...Uli Ala Ika...UAI,” Praba membaca kartu nama di dada Uli.

“Maaf,aku bukan orang yang kamu gambarkan dalam puisimu,” Praba mengangkat bahu.

Uli masih terdiam, berusaha menguasai diri karna 5 menit yang berjalan ini seperti hal aneh yang susah dia cerna.

“Aku memang tidak seperti yang kamu bayangkan, tapi apa kita tetap bisa berteman?” tanya Praba. 

Kali ini senyuman khas Praba kembali merekah. Uli sedikit lega karena suasana mulai cair. Kembali hatinya bercampur aduk. Desiran yang semalam tersembunyi kini muncul kembali. Kali ini lebih dahsyat. Sedahsyat tatapan Uli ke Praba.

Uli berusaha menahan senyum. Apapun wujud pemuda ini, Uli terlanjur jatuh hati. Mungkin buku-buku itu hanya alasan yang dikirimkan Tuhan untuk mempertemukan mereka.

Mungkin ini sedikit norak, tapi asal kau tahu, tidak ada kata aneh dalam cinta!

Bila aku melihat buku, aku seperti sedang melihatmu.
Kalian punya kesamaan, sama-sama memiliki......
Tuhan,

Dengan membiarkanya tetap bernapas dan tersenyum, adalah kado terindah-Mu untuknya.
-UAI-


13 September 2013

KONSPIRASI MAC’09




Di sebuah ruang kelas yang sudah diubah menjadi ruang penjurian lomba design iklan. Sebuah meja sepanjang kurang lebih 4 meter terbentang. Di atasnya, berderet rapi hasil design iklan dari orang-orang. Masing-masing design tersebut terkemas dalam kertas foto ukuran asturo. Kurang lebih ada 30 design yang panitia terima. 3 orang juri tengah berkeliling menatap satu per satu design yang ada. Bu Aya, dosen pembimbing kegiatan MAC’09 (Marketing and Advertising Contest’09) hadir menemani ke tiga juri. Seorang rekan dan saya selaku wakil panitia turut memperhatikan dan memastikan jalannya penjurian sesuai dengan prosedur. Sesekali kami membantu juri mengenai apa yang mereka butuhkan dan apa yang perlu dibantu. Ruang tersebut tertutup rapat, terkunci. 

Aturannya adalah dari seluruh design yang masuk, para juri harus menyisihkannya menjadi 10 besar. Seorang juri mengambil 1 design kemudian menyisihkan ke tempat yang telah ditentukan sebagai tanda design tersebut terpilih. Diantara mereka saya harap-harap cemas, saya mengirim satu design dalam ajang tersebut. Memang tidak ada ketentuan panitia dilarang mengikuti, jadi banyak pula dari teman-teman yang ikut memeriahkan dengan mengirimkan karya (yang dianggap)terbaiknya. 

Sudah 8 design terpilih, kurang 2 lagi. Tidak ada tanda-tanda karya saya akan terpilih. Tak seorang pun dalam ruangan tersebut tau design saya ada di sana, karena semua design tanpa nama hanya ada no sebagai penanda. Apa jadinya pula bila mereka tahu saya ikut mengirim karya sekaligus menyaksikan penjurian? Seorang juri perempuan memilih 2 design melengkapi kekurangan kuota, genap 10 design sudah terpilih. 2 design yang terpilih bukan punya saya. Mungkin itu bukan rejeki saya,pikir saya spontan.

Sesaat kemudian, salah satu juri pria berkata “Tunggu saya mau memasukkan 2 design lagi, ini dan ini” kata juri tersebut yang salah satu design di tangannya adalah punya saya, ya Tuhan! “Tapi ini sudah 10 design” kata juri perempuan. “Iya tapi saya suka 2 design yang ini, balas juri laki-laki,” Bagaimana Bu Aya, apa boleh kita tambah 2 lagi menjadi 12 besar? Bu Aya mengangguk membolehkan.

Aturan selanjutnya, dari 12 besar mereka harus menyaring menjadi 5 besar. Satu design terpilih, 3 dan kemudian 4.  Saya berkata dalam hati, tidak mungkin keberuntungan terjadi dua kali, kali ini saya tidak akan lolos 5 besar. Tapi ternyata design ke 5 adalah punya saya,ya Tuhan! 

Selanjutnya pastilah menyisihkannya menjadi tiga besar. Dan itu artinya sudah dapat 3 pemenang. Babak penyisihan ke tiga besar lebih rumit dan berbelit. Ke tiga juri saling berargumen mengajukan design pilihannya. Bukan hanya harus menyisihkan menjadi tiga besar, tetapi mereka juga harus menentukan mana juara 1 mana juara 2 dan mana yang juara 3. Akhirnya setelah perdebatan sengit, dan sempat terjadi perselisihan, mereka sepakat memilih 3 design. Lagi-lagi design saya masuk ke tiga besar. Satu juri bersikukuh memasukkan design saya, 1 juri lagi netral tidak keberatan, tapi juri wanita merasa keberatan pada awalnya walaupun dengan berat hati akhirnya sang juri wanita mengalah dan terpaksa menerima design saya masuk 3 besar.

Bisa dibayangkan perasaan saya saat itu, saya menyaksikan sendiri design saya sedang diperdebatkan dan dengan mata kepala mengetahui bagaimana perjuangannya hingga 3 besar. Sudah tahap 3 besar saya tidak berani bermimpi, bagi saya itu sudah cukup artinya saya sudah juara. Ingin rasanya saya berlari mencari Agi rekan saya yang menjadi model dalam design tersebut, memeluknya dan berteriak “Design kita menang Gi’......” tapi hasrat tersebut berhasil saya tahan. Hanya saya mendekat ke Bu Aya dan berbisik “Bu, itu yang putih punya saya” kata saya lirih. “Ssstttt...jangan sampai juri denger, pura-pura ngga’ tau aja,” balas bu Aya lirih. Saya pun mengerti instruksi beliau.

Perdebatan terakhir penentuan peringkat kembali lagi terjadi perdebatan. Sang juri wanita menempatkan design saya pada urutan ke tiga. Saya saksikan lagi bagaimana juri yang selalu membela design saya itu memperjuangkan design saya untuk berada diperingkat 2 dan terus berjuang, terus berargumen hingga tiba-tiba design saya bisa ada diurutan pertama. Saya sendiri masih ragu, ini jurinya ngelantur kali ya, kenapa bisa jadi urutan satu? Juara dua yang saya ingat adalah design iklan layanan masyarakat, dan ke tiga saya lupa tapi yang saya ingat itu punya anak Undip. Lagi-lagi saya ingin berlari memeluk Agi’, dan berteriak “Kita juara satuuuuu gi’....!” sungguh aneh dan luar biasa,kan? Setidaknya keuangan saya aman saat itu, bisa bayar hutang ke Mimi dan ikut perpisahan ke Jogja. Huft ...

Ketua MAC’09

“Gus, aku mo ngomong, tapi jangan kaget ya,” kataku ke Agus sang ketua MAC’09 angkatan kami.

“Hm..opo?” balasnya.

“Tadi aku mengikuti penjurian, dan yang menang kamu tau siapa?” tanya saya berusaha membuatnya penasaran.

“Sapa emangnya?” balasnya benar-benar penasaran.

“Punyaku ma Agi’,hehe.” 

“Serius? Gila kamu? Ngaco ah!” kata Agus tak percaya.

“Heh, kalo ngga’ percaya tanya bu Aya,sekarang gue tanya hadiahnya berapa buat juara 1?” tanya saya.

“Hah? Juara satu ?” balas Agus setengah kaget.

“Hadiah juara satu duitnya berapa?cepet bilang,” saya mencoba memaksa.

“Sejuta,”balasnya.

“Lho ko’ Cuma sejuta, orang di poster bilang total hadiah li..ma...ju..ta...rupiah....” tandas saya.

“Itu kan total Re, jadi hadiah utama sejuta, juara dua 750, tiga 500 ribu” balasnya.

“Ngga’ bisa gitu dong...mentang-mentang aku ma Agi yang menang terus hadiahnya Cuma segitu, iya?” 

“Ngga’ emang hadiahnya segitu! Oh ya, kamu tau kondisi event kita kan, banyak yang belum dibayar bahkan jurinya belum dibayar, jadi hadiahmu kita pake’ dulu buat yang lebih urgent ya? Tar terpaksa kamu dikasih amplop kosong dulu, pura-pura gitu,” penjelasan Agus cukup mengagetkan saya.

“Lhoh kok gitu, aku juga butuh duit Gus, yang bener dong!”

“Re, kok gak ngerti banget sih, besok pasti kita bayar, sabar aja gitu, terpaksa penyerahan hadiah kamu dikasih amplop kosong,oke?” tandasnya.

“Eh, kalo aku ma Agi’ ngga’ dikasih itu duit ya, kita ngga’ mau ikut perpisahan ke Jogja. Duit dari mana kita? Tau kan kita ngga’ ada duit,” balas saya.

“Lho ngga’ bisa gitu dong itu kan perpisahan kelas harus ikut,” tandasnya.

“Bodo, orang ngga’ punya duit mau gimana? Apa iya kita berangkat ngga’ bawa duit sama sekali?” balas saya.

“Yawda gini aja, sementar aku bayar kalian 200 ribu dulu, itu pun uang pribadiku, gimana? Yang penting kalian harus ikut perpisahan,” jelasnya.

“ Itu 200 ribu itungannya uang juara favorit karna yang menang juga aku, hehe, jadi kamu masih ada tanggungan ngasih kita-kita sejuta,gimana?” jelas saya.

“Lho kok bisa kalian lagi yang menang favorite juga? Wah ini ada yang ngga’ beres ini,” balas Agus.

“Emang kita yang menang! Jangan protes, protes ma juri, kalo soal juara favorit protes aja ma pengunjung,” jelas saya. Soal juara favorit sebenarnya saya juga sedikit bersalah.  Penilaiannya adalah dari vote pengunjung. Dan saya banyak promosi ke orang-orang untuk memilih design saya. Sebuah konspirasi kecil, walaupun tidak salah juga, orang-orang ikhlas saja milih punya saya.

Dan ternyata benar, pada pesta penyerahan hadiah, saya pura-pura menerima amplop dan piala, amplop kosong seperti kesepakatan sebelumnya. Padahal foto itu masuk Suara Merdeka, walaupun cuma kolom kampus. Yang paling melegakan adalah saya bisa sedikit bernafas dengan adanya sedikit pemasukan keuangan. Selebihnya saya tetap menanggung rasa malu karena saya sendiri tidak merasa pantas dimenangkan. Apalagi kalau design saya diketahui anak-anak pers saya sendiri, mereka akan langsung menilai karya saya tidak pantas menang. Kebetulan yang saya sengaja memilih penggunaan foto dan bukan design murni, sedangkan teknik fotografi saya minim. Pasti akan dikritik habis-habisan oleh fotografer LPM saya sendiri. 

Saya berusaha menepis rasa paranoid yang melanda. Biarlah saya dikecam LPM dan dianggap MAC’09 tidak bermutu karena karya minim sayalah yang menang. saya berusaha cuek, toh saya benar-benar butuh uang. Saya dapat uang, dan itu cukup! Pikir saya kala itu. Ini design yang dulu menang.



Foto tersebut sudah mengalami sedikit pengeditan. Iklan tempat spa ceritanya. Teman saya sendiri yang jadi modelnya, kita sudah sepakat kalau nanti menang hadiahnya akan kita bagi dua. Kamera yang saya gunakan pinjam dari LPM saya sendiri. Berbekal teknik minim dan foto dengan ke dua tangan saya sendiri. Maklum saya lebih mahir memainkan tape recorder ketimbang mengutak-atik kamera DSLR. Foto tersebut diambil di loteng tempat kos teman saya. Di sana ada tembok putih yang sedikit bercak tapi bisa diperhalus melalui edit komputer. Kain putih yang dipakai teman saya sebenarnya adalah mukena. Kami tidak punya peralatan sama sekali jadi kami maksimalkan benda-benda yang ada. 

Benar-benar keanehan yang akan saya ingat seumur hidup, hahahaha. Sebenarnya saya punya dokumentasi foto-foto ketika penjurian berlangsung dan rangkaian acara MAC’09 berlangsung 3 hari. Tapi gara-gara adik saya bermain partisi semua data saya hilang!

Additional info MAC’09 mengangkat tema “White Generation of Advertising” adalah serangkaian acara dari Marketing and Advertising Contest tahun 2009. Acara tersebut rutin tahunan, isinya diantaranya lomba design iklan, seminar, pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan marketing atau periklanan dan pameran iklan dari lomba itu sendiri. Acara digelar 3 hari, dan puncak acara adalah hari ke tiga dimana dalam acara tersebut akan diumumkan pula pemenang lomba design iklan, dihadiri oleh dosen-dosen, seluruh peserta seminar, seluruh peserta lomba dan seluruh mahasiswa marketing AN. 

Pukul 7 malam seluruh rangkaian acara selesai. Kami pun membersihkan sisa-sisa pameran dan sampah-sampah yang berserakan. Setelah beres, seluruh panitia berkumpul di aula kantin Tata Niaga, disana digelar meja dengan panjang 5 meter dengan kursi mengitarinya. Seluruh panitia duduk melingkar bersama Bu Aya dosen sebagai pembimbing acara. Bisa dikatakan rapat ringan malam itu adalah pembubaran. Evaluasi kinerja panita, kekurangan dan kelebihan. 

Di akhir-akhir rapat, semua orang menyudutkan saya. Dari semua kesalahan panita, sayalah yang paling disorot. Salah seorang rekan saya menyalahkan saya dengan nada tinggi, awalnya saya biasa saja, tapi rupa-rupanya dia semakin menjadi-jadi, keluarlah suara ketus saya. Dalam keadaan memanas bu Aya mendekat ke saya berusaha menenangkan. Beliau memegangi tangan saya, tiba-tiba cengkramannya berubah kuat. Bu Aya berteriak “Gus, Lang cepet ini saya pengangi....bopong dia..!” teman-teman bergerak cepat membopong saya ke tengah lapangan. Saya meronta minta perlindungan, tapi cengkraman mereka terlalu kuat. Sampai di tengah lapangan, telur, tepung, air bercampur menghantam tubuh saya. “Udah..tolong..jangan...kasiani aku....aku masih harus pulang ke Babadan...naek motor...please,...udah...udah...” rengek saya. Tapi teman-teman seakan tidak peduli bahwa saya masih harus pulang malam dengan motor ke Babadan. “Selamat Ulang Tahun.....” satu per satu mereka mengucapkan saya ulang tahun. Oohh rupanya kejutan ultah, hahahaha.

“Wah enak ya Re, ulang tahun dapet surprise, menang lomba juara 1 ma favorit lagi,ck..ck...” kata salah seorang teman saya. Hahahaha, ulang tahun saya kala itu memang ulang tahun paling spesial seumur hidup saya apalagi sehari setelahnya saya masih mendapat kejutan dari anak-anak LPM, bolehlah sedikit saya cerita.

Siangnya seperti biasa saya ke posko LPM saya, tanpa merasa aneh dan ada sesuatu yang akan terjadi. Ternyata di sana saya kembali mendapat cengkeraman tangan yang amat kuat dari adik-adik tingkat saya. Kali ini lebih parah, kalau malam harinya saya dianiaya di depan panitia MAC’09 saja, sekarang saya dieret untuk diikat di tengah lapangan di depan kantin teknik, persis. Dalam keadaan tidak berdaya saya diguyur air lumpur dengan cacahan rumput di dalamnya. Apa tidak malu, coba bayangkan, saya di tonton semua mahasiswa teknik yang kala itu sedang akan di kantin. Saya merasa seperti tontonan segar pula gratis, basah kuyup layaknya tikus tercebur got. Adik-adik tingakat  yang perempuan tidak berani melepas ikatan saya karena dilarang sama yang laki-laki. Hampir 30 menit saya dipermainkan baru kemudian boleh dilepas. Huft...gila...gilaa...! ini paling gila!

Begitulah konspirasi-konspirasi kecil dalam hidup saya.

Review Novel To Kill A Mocking Bird

Doc. irerosana Perlu waktu yang tidak sebentar bagi Amerika untuk mendewasakan diri, menerima bahwa warna kulit bukanlah sesuatu ya...