August 31, 2013

Jilbab itu Batas!



 

‘Jilbab itu Batas’ kata Adnan seorang teman saya di twitter. Maknanya bisa ditafsirkan sendiri. Saya juga setuju dengan ungkapan tersebut. Jilbab adalah batas, sejauh mana kita bergerak, sejauh mana kita berperilaku, berfikir dan merasa. Jilbab adalah batas diri setiap muslimah. Jadi menurut saya, bukan membatasi diri terlebih dahulu baru berjilbab tapi berjilbab untuk membatasi diri.

 ‘Jilbab itu kewajiban’ kata mantan partner kerja saya dan saya mentafsirkannya sebagai suatu bentuk perintah dari dari Al-Kitab. Ditegaskan dalam surah Al-Ahzab ayat 59 ;
“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin ‘Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka’ Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” Itu adalah seruan/perintah untuk mengenakan jilbab.  

Yang menjadi kontra selama ini adalah ada beberapa pihak yang mengartikan memakai jilbab itu kewajiban sedang beberapa wanita menganggap tidak.  Yang menganggap wajib berpedoman pada surah tersebut dan juga diperkuat dari Riyadus Salihin, 

dari Aisyah Ra “Bahwa Asma Binti Abu Bakar Ra masuk menemui Rasulullah Saw, dengan mengenakan kain yang tipis, maka Rasullullah Saw pun berpaling darinya. Beliau bersabda ‘wahai asma’seorang wanita jika telah balig tidak boleh terlihat darinya kecuali ini dan ini –beliau menunjukkan wajah dan kedua telapak tangannya-.

Kemungkinan yang menganggap itu tidak wajib mengacu pada arti dari surah Al-Ahzab yang  diartikan secara mentah. Apalagi dalam artinya menggunakan kata “Hendaklah” yang mana lebih berarti saran yang tidak wajib. Namun, bila meneruskan secara tafsir ditambah lagi Riyadus Salihin yang tersebut di atas, jelas sudah bahwa wanita balig wajib menggunakan jilbab. “Tidak boleh” artinya larangan, berarti ‘wajib’. 

Terkait dengan kata batas, artinya setiap wanita balig wajib mengenakan jilbab guna membatasi diri, pula hal tersebut bisa berguna untuk menghindari gangguan-gangguan luar seperti yang tertera pada ayat di atas. Itu tujuannya baik, dan saya secara pribadi setuju. Apabila ada beberapa rekan/teman sesama wanita yang berpendapat lain sumonggo

Biasanya beberapa teman wanita saya bilang “Pakai jilbab nanti kalau sudah siap” atau “Percuma pakai jilbab kalau kelakuannya begitu” atau yang extreme mengatakan “Nduwur kudung Ngisor Warung, mending dicopot saja jilbabnya” maksudnya, atas berjilbab tapi bawah di obral. Secara pribadi saya akan tanggapi ‘pakai jilbab nanti kalau sudah siap’ setahu dan sepengalaman saya, kata ‘siap’ itu tidak akan pernah ada, bahkan sejauh ini saya memakai jilbabpun saya tidak pernah benar-benar siap. Yang ada adalah saya mencoba siap disetiap detiknya, disetiap harinya. Saya juga yakin, sampai matipun saya tidak akan pernah siap! 

Untuk 2 ungkapan berikutnya, pandangan saya begini, Jilbab itu kan ‘wajib dan batas’ artinya buruk, baik, cantik, jelek saat sudah balig wajib mengenakan jilbab guna membatasi dirinya. Itu artinya justru jilbab itu adalah senjata membatasi diri dan kelakuan untuk menjadi lebih baik. Mengulang ungkapan diawal bahwa ‘bukan membatasi diri dulu baru berjilbab tapi berjilbab guna membatasi diri.’ Karena bila menunggu kita siap, kita yakin bisa membatasi diri, nunggu waktu yang tepat semua itu tidak akan pernah terjadi. Karna watak dan tabiat manusia adalah tempat salah & tempat yang tak luput dari peluh dosa. Waktu sempurna yang dinanti-nantikan itu tidak akan pernah ada, buat saya yang benar adalah saat ini juga! 

Saya sendiri tidak memakai jilbab sedari kecil. Bahkan saya dulu juga berfikir sama, akan memakai jilbab jika sudah siap. Siap disana mencangkup siap mental, siap perilaku, siap keuangan (karena harus membeli jenis baju-baju baru), tapi suatu ketika Allah sendiri yang mengingatkannya. Dengan mudah membuat batin saya menangis, dan hanya tenang bila saya tutup kepala saya dengan jilbab. Itu terjadi dengan sendirinya dan saya percaya itu cara Allah mengajak dan memperingatkan saya. 

Karena Allah sudah mengajak saya, saya sedikit banyak ingin mengajak pula lewat tulisan ini.
Apakah bertahun-tahun saya aman? Tidak. Pada waktu awal memang nyaman, tapi selang setahun godaan itu besar-besaran melanda. Pernah rasanya ingin mencopot, atau keluar sesekali tanpa jilbab dan itu benar-benar menggoda iman. Apalagi kala itu , tren baju-baju lengan pendek dengan rok mini sedang in, naluri wanita tentu sempat muncul untuk terlihat cantik dengan tren mode tersebut. 

Tapi alhamdulillahnya, tahun-tahun berikutnya sudah tidak lagi tertarik dengan tren yang seperti itu. Alhamdulillah lagi 2 tahun terakhir ini perkembangan mode jilbab meroket tajam, bahkan membuat banyak teman kerja saya memutuskan berjilbab. Saya merasa jilbab yang dulunya masih diasingkan dan dianggap komunitas ‘khusus’ sekarang sudah beralih ‘familiar’.  Wanita berjilbab benar-benar lebih terlihat anggun (itu menurut saya!)

Memang mungkin ada beberapa yang protes mengenai beberapa kelakuan wanita berjilbab yang notabene tidak sesuai syariah, bahkan menodai agama dan jilbab itu sendiri. Tapi kembali lagi semua wanita muslimah balig ‘wajib berjilbab’ jadi apakah setelah semua wanita berjilbab kemaksiatan akan hilang? saya yakin tidak, saya yakin masih banyak manusia yang berproses untuk pembentukan diri menjadi lebih baik, dan jilbab itu adalah batas untuk membantu pembentukan diri wanita itu sendiri. Sekarang tinggal manusianya apakah menggunakan batas tersebut dengan benar ataukah malah menyeleweng. Bila menyeleweng tentu tidak kita benarkan! Dan sesama muslim kita wajib mengingatkan dengan aturan-aturan islam tentunya.

Ya, jadi menurut saya jilbab itu batasan yang wajib dikenakan. Masalah apakah sesuai ataukah menyeleweng dari syariah bisa diselesaikan tahap lanjut sesuai hukumnya. Jadi yang disalahkan tetap ‘kelakuannya’  bukan ‘jilbab’nya. Jadi, tidak fair kalau karena kelakuan manusia yang memang tak akan luput dari dosa jilbab harus dikesampingkan atau mengunggu manusianya benar dulu untuk mengenakannya. Okeh? Itu tadi Cuma pandangan saya pribadi mengenai jilbab, diterima monggo, kontra monggo,,,,,salam damai wanita Indonesia!

August 26, 2013

Call me "Mam"




Seminggu lagi atau selambat-lambatnya sebulan lagi, sepertinya aku akan kembali dipanggil “mam”.  Mam disini berbeda dengan Mom, Mam artinya orang yang dianggap Ibu namun tidak terikat darah. Bila di bahasa Indonesiakan adalah “Bu”, “Bu” untuk bu guru dan bukan “Bu” untuk Ibu (wanita melahirkan). 

Rupanya Allah SWT sungguh benar menyayangiku.  Biarpun hampir keseluruhan temanku sudah dipanggil “Mom”,”Mami”,”Bunda” atau bahkan “Umi” oleh darah daging mereka, tapi aku juga masih diberi kesempatan untuk dipanggil “Mam” walaupun oleh orang lain (anak lain). Kembali menjadi ibu guru, meski bukan pada jalur resmi (baca : sekolah).

Kembali menjadi guru mengingatkanku pada salah satu murid yang kutinggal sekitar 3 tahun lalu. Namanya Angga. Kala itu Angga masih duduk di bangku kelas V Sekolah Dasar, sama dengan adik kecilku, Ipang.  Karena sekarang Ipang kelas 2 SMP, itu berarti Angga-pun duduk di kelas yang sama. 

Entah bagaimana dia sekarang, entah seperti apa rupanya. Pasti sudah menjelma menjadi seorang remaja putra yang tampan. Dia memang tampan, berhidung mancung, rambut jabrik, putih, mukanya setali dengan Kiki Farel menurutku. Aku yakin kelak dia besar akan menjadi idaman para wanita. Bu Iswari, ibunya selalu bercerita selepas pengajaranku, betapa anaknya digandrungi dan suka digoda oleh teman-teman wanita sekelasnya. Bahkan katanya, kakak-kakak kelas 6 juga sering mencuri perhatian Angga.

Pertama kali aku bertemu Angga dia memanggilku “Bu” dan mencium kedua tanganku, tapi beberapa menit kemudian meralat menjadi “Mba” setelah menyadari sepertinya aku masih cukup muda. Setelah sekian lama menghilang dan tidak bertemu, hari ini aku tiba-tiba teringat pada murid kecilku itu. Karena aku sadar, besok aku akan segera kembali memiliki murid. Yang kuragukan, akan seperti apa muridku esok? Masih tanda tanya.

Bicara soal mengajar dan Angga, aku teringat betapa repotnya waktu pertama kali mengajarinya. Rupanya bocah satu itu kurang tanggap dalam hal pelajaran. Dia cerdas secara emosional, sopan santun, berbakat beramain drum, tampan, tapi lemah pada mata pelajaran. Awalnya aku pancing dengan mengenali karakteristiknya.  Aku lebih banyak mengajaknya sharing, untuk tau dia lebih dalam. Aku tanya hobinya, apa yang dia suka, musik yang dia suka dan setiap jawabannya selalu kukembangkan agar dia merasa dekat denganku dan paham bahwa aku dekat dengan apa yang dia suka.

Angga bukan anak Eksak, jiwa seninya lebih lumayan ketimbang harus beradu angka.  Bahkan pelajaran sejarahpun tidak bisa dia terima dengan baik. Akhirnya, aku harus merubah diri menjadi pendongeng sejarah agar dia lebih tertarik dan mudah menerima materi, dan ternyata itu bekerja!
Sembari mengingatnya sembari aku teringat pula rasa buruk yang harus kuterima ketika mengajar. Pressure tinggi dan gejolak paranoid tiap kali akan berangkat mengajar. Itu tidak mudah dilalui. Esok pasti sama rasanya, namun aku harus pandai mengantisipasinya sedari sekarang. 

Aku harus menyadari bahwa aku tidak pandai. Banyak materi yang tak bisa kukerjakan tanpa membuka buku referensi ataupun check google. Menyadari itu aku berusaha menggali apa yang aku bisa, tanggung jawabku kala itu adalah nilai anak itu harus bagus, anak itu harus berkembang. Lalu terbesit untuk merubah mindset Angga secara perlahan. Mungkin aku tidak bisa mengajari cara berhitung yang baik tapi aku bisa menanamkan bahwa matematika itu mudah dan itu berguna untuk dirinya kelak. Bahkan sering kali aku mengaitkan pelajaran dengan keinginannya menjadi astronot. Ternyata perubahan mindset yang kutanamkan lebih bekerja. Bu Is bilang, dalam bulan-bulan terakhir ini guru sekolah Angga berkata banyak perubahan positif pada diri Angga. Dulu yang dikenal sebagai anak yang bandel di kelas kini mulai anteng, dulu selalu malas menerima pelajaran sekarang lebih percaya diri untuk mengangkat tangan. Kepercayaan diri itulah yang aku target sebenarnya. Setelah mindset berubah, maka daya tangkap pelajaranpun akan semakin baik,pikirku. Kala itu Angga tak paham bahwa cara berfikirnya sudah kuaduk-aduk, tapi untuk hal positif.

Mengetahui hal-hal seperti itu adalah anugerah yang benar-benar membuat hidupku bahagia. Setidaknya hidupku berarti untuk satu orang. Buatku, Itu seni menikmati hidup dan seni mengajar.

Hingga akhirnya suatu hari aku menyerah. Menyerah dengan keadaan yang menghimpitku. Bisa dibayangkan kala itu, aku masih bekerja di garment, pulang kerja sekitar pukul 5, sampai rumah pukul 6, makan, solat dan berangkat mengajar hingga larut. Apa arti tubuhku yang ringkih ini. Aku makhluk lemah tak kuasa harus menahan pressure berkali kali lipat akibat dari padatnya kegiatan.

Hari terakhir aku di rumah Angga, aku membawa seorang teman atau lebih tepatnya guru pengganti untuknya. Bu Is lalu bilang, “ini nanti yang akan mengganti Mb Ire, jadi nanti Angga belajarnya sama Mb Wiewien.” Angga setengah kaget menatapku, lalu mencium tanganku seolah menahan gejolak rasa kehilangan. Batinku serasa teriris kala itu. Aku tak pernah melihat muka Angga seserius seperti kala itu.  Bahkan, sampai di rumah dan selama 2 hari hari aku masih membawa rasa sakit itu. Itu rasa kehilangan seorang murid. Aku jadi membayangkan, bagaimana rasanya guru-guru sekolah tiap tahun melepas murid-muridnya. Mungkin bagi sebagian orang terdengar “lebay” tapi buatku itu adalah bukti sayang kita terhadap murid. Bukti betapa kita bahagia melihat mereka berkembang dan terus maju.

Aku tak tahu apa kelak mereka masih teringat padaku. Muridku memang bukan Angga, dulu sewaktu kuliah aku sempat punya beberapa murid. Namun, mungkin karena faktor kedekatan waktu, aku masih mengingat Angga secara detail.

Dengan bentuk pengabadian tulisan kali ini, berharap bisa mengingat kembali susah senangnya punya seorang murid! Satu hal yang aku dapat ketika mengajar adalah perlunya rasa ketulusan, dan keikhlasan ingin memajukan murid didiknya. Terkadang hal itu yang sering kali dilupakan oleh para pengajar. Mereka hanya fokus pada penyelesaian mata pelajaran.  Seolah itu tanggung jawab utama mereka. Mereka lupa akan unsur-unsur sederhana yang sebenarnya malah merupakan esensi dari mengajar itu sendiri.

August 23, 2013

A PARTNER

(Resign, anugerah atau masalah?)

Babadan, rumah Nonob

“Hai Nob, Mio baru?” tanyaku melirik sebuah Motor MIO berdiri gagah di balik pintu rumah Nonob.

“He em,” balas Nonob mesem.

“Uiihh...! keren!” balasku kagum. 

“Kamu beneran resign?” tanyanya.

“He em, udah nganggur dua hari.”

“Mending dong, aku udah nganggur seminggu lebih.” 

“Jangan kuatir, setelah ini ajak kamu sibuk, oke?”

“Sip!” balas Nonob sumringah.

“Siap?” Aku menengok ke belakang. Nonob selesai membenahi duduknya. Karna bukan motor matic, terpaksa Nonob mengangkat rok gamisnya hingga lutut. Itu supaya dia tidak perlu membonceng arah samping yang mana akan menggoyahkan keseimbangan mengemudiku.  (Itu juga salah satu alasan aku ingin ganti motor matic!)

Di toko buku
“Nyari buku apa sih, Re?” tanya Nonob.

“EYD Nob, sama kamus KBBI, buruan cariin,” tegasku.

“Nyari buku bahasa bukan di sebelah sini.”

“Terus di mana?”

“Ayo ikut aku, aku tuh ya apal denah Gramedia, secara hampir tiap minggu ke sini nganter adikku cari buku,” kata Nonob bangga.

“Oowwh...gitu ya udah sana cariin, KBBI!” Sekalian dia aku manfaatkan, batinku.
Selang 2 menit Nobita berteriak,

“Re.....!” teriakannya sempat menyita perhatian mas-mas pengunjung yang juga tengah sibuk mencari buku.  

“He...” aku senyum sedikit malu sembari nengok kanan kiri, maaf mas mbak, teman saya lagi bersemangat, he.

“Jangan teriak-teriak dong Nob, ada apaan sih?” suaraku mengajak obrolan lirih.

“Lhoh, katanya nyari KBBI? INI...KAA..BEE..BEE..III..tuh kan langsung dapet!”
Nonob kembali sedikit berteriak, huft...sabar...sabar.

“Iya-iya pinter, tapi jangan segede ini juga kali! Harganya pasti mahal. Yang murah gitu Nob, rada kecilan.” Kitapun bergegas mencari buku yang aku maksud dan meneruskan perjalanan.

“Gimana risetmu?” tanyaku sembari kami sibuk melihat buku kanan kiri.

“Lagi sepi, ga’ ada gawean aku.”

“Kenapa ga’ nyari?”

“Kemaren daftar research UGM, butuh banyak orang tapi malah telat, ga’ jadi deh.” 
Kekecewaan tersirat dari ucapan Nonob.

“Nyari yang laen dong!” balasku.

“Kadang aku malah mulai ngerasa gini Re, aku dah kerja baik-baik malah resign, terus sekarang semua orang seolah menyalahkanku, katanya aku dah kerja enak malah resign, sekarang nganggur. Mana adekku banyak,lagi! bukannya kerja bantu keluarga malah nganggur, aku dah nyari-nyari kerja lagi lho, tapi belom dapat,” muka Nonob berubah muram.

“Jangan kerja lagi dong, kalau balik lagi kaya' dulu itu artinya kita kalah, orang yang menghinamu justru tambah menertawakan. Sek,kamu dulu tujuan resign buat apa?”

“Buat ikut riset-riset. Kerja di sana bukan aku banget!”

“Nah...kalo’ gitu cari riset, kerja seperti keinginanmu Nob. Masa’ neh ya, udah resign susah-susah, rela kehilangan pendapatan malah sekarang nyerah?”

“Tapi kerja riset ngga’ tetap lho Re, kadang ada, kadang ngga’,” tandasnya.

“Tapi setidaknya kamu pernah dapet duit dari riset,kan? Coba kamu pikir, aku belom pernah dapet apa-apa dari nulis, harus belajar dari nol lagi! Eh, btw sekali riset dapet berapa?” tanyaku menyipit.

“Ya... itu...MIO baruku.”

“Wuiiih...gila! MIO baru hasil dari riset?” aku melongo.

“Bukan bukan! Dp-nya doang..sekitar.....” Nobita menghentikan ucapannya. 

“Tujuh....” lanjutnya lirih.

“Wow gede juga ya, ya udah mending nyari tender riset lah. Eh, aku kasi tau ya, riset di Indonesia itu buanyak banget, ga’ Cuma di UGM. Kalo’ gagal di sana bukan berarti gagal di tempat lain.”

“Iya sih..” ucap Nobita lirih

Gila aja, sekali riset segitu, pikirku.  Nulis saja awal-awal, impossible bisa segitu. Jadi kepikiran apa sebaiknya aku masuk riset marketing,ya? Bantuin dosen-dosenku dulu. Nilai metode penelitianku dulu ya...lumayanlah! apalagi MP adalah mata pelajaran favoritku dulu, dosennya Pak Riyadi juga dosen idolaku. Ihirr.... tampung dulu sarannya, thank you thank you.

“Nah ini Nob, KBBI yang sedeng,” ucapku spontan. Kulirik harganya, 50ribuan. Kucari-cari lagi yang lebih besar. Ada satu warna merah bata, KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA edisi lux,70ribu. Sepertinya yang ini lebih OKE, pikirku.

“Apa ga’ sebaiknya kamu beli di loakan aja? Di sana kan lebih murah, yang KW,” kata Nonob.

“Ngga’ mau lah, gini ya Nob, secara cita-citaku itu mau jadi penulis, masa iya aku harus beli buku KW. Dulu semasa kuliah emang sempat fotocopy beberapa, tapi aku dah janji ma diri sendiri besok kalo’ dah kerja kalau beli buku itu yang asli, atau mending pinjam PerPus, gitu daripada beli KW.”

“Ciee....” balas Nonob sedikit ngece. Memang tekadku seperti itu, tapi kalau buku-buku mapel dulu tetep lah fotocopy, maksudku, selain materi mata kuliah,he.

“Itu ada EYDnya?” tanya Nonob.

“Ada dong.”

“Mana?”

“Sepertinya ada, cuma ga’ bisa di cek. Ga’ ada sample yang udah bukaan. Padahal aku mau bandingin dulu dari ke dua buku ini mana yang lebih oke dalemnya.”

“Ya udah buka aja to, Re!”

“Gila aja, tar kalo’ ketauan dimarahin,gimana?”

“Halah, ga’ papa! takut amat! Sini aku yang buka.” 

Nonob menyambar buku di tanganku, sreekk..langsung menyobek plastik pembungkusnya. Duh, ini anak! Aku menoleh ke kanan dan ke kiri melihat sikon, takut ada yang lihat atau melapor ke petugas.

“Udah kamu santai aja, ga’ papa kan? Neh liat dalemnya,” kata Nonob sembari menyodorkan buku yang barusan dia perkosa. Aku memperhatikan dengan seksama, lho? kenapa font pilihannya begini ya?pikirku heran. 

“Emm...Nob... satu lagi dong buka, hehehehe,” pintaku.

“Yeee...buka aja sendiri.” 

Terpaksa aku ikuti saran liarnya untuk membuka buku satunya. Keasikan membuka sampul buku, akhirnya tiap kali liat buku bagus tapi tidak melihat sample yang sudah terbuka, aku sobek pembungkusnya. Sobek lagi, sobek lagi, dan sobek lagi. Entah berapa pembungkus yang aku buka, dan sisa plastiknya di umpetin di sela buku-buku. Maaf,yang seperti itu dosa ga’ ,sih?

“Re...beliin buku ini dong!” Nonob memegang sebuah buku bersampul warna Pink.

“Buku apaan tuh?” tanyaku. “Oowwh buku cinta-cintaan? Ogah, lagian kamu tahu aku lagi ngirit!”

“Bukan, ini untuk menentramkan hati!” belanya. 

“Owh, kamu lagi galau ternyata? Oh ya, katanya mau married tahun ini?” tanyaku.

“Belum belum, kata siapa?” Nonob balik tanya heran.

“lhoh, kemaren lebaran bilangnya gitu? Katanya udah dilamar?”

“Belum, maksudnya dilamar ke aku doang, belum ke orang tua.”

“Ya udah suruh lamar aja ke orang tuamu, gampang,kan?”

“Ga’ segampang itu, udahlah aku mending lupain dia!”

“Lhoh, putus?”

“Belom juga, dia belum bisa ngelamar. Padahal kan kamu tahu, umurku dah...”

“Yaelah, jadi galau gara-gara ga’ dilamar-lamar?” Nonob terdiam sepertinya mengiyakan.

“Bukanya aku setahun lebih tua dari kamu ya? Menurutku kamu santai aja, ga’ perlu galau. Emang sih cowok yang baik itu seharusnya mementingkan komitmen lebih dari apapun. Kan kita lebih berharga daripada alasan-alasan dia menunda lamaran, bukan?” 
“ Tapi....”

“Tapi...?” Nonob menunggu lanjutan ucapanku.

“Tapi kamu objektif juga liat dia, apa dia sangat berharga melebihi waktu kamu menunggu? Kalau dia emang pantas ditunggu, ngga’ salah kok kita tunggu.  Kalau kamu harus ninggalin dia Cuma gara-gara ngga’ mau menunggu, itu artinya dia tidak lebih berharga dari waktumu, bukan?”

“Tapi umur kita Re....”

“Nob...” Potongku. Kurangkul dia, sembari berjalan, kulirihkan suara agar orang-orang tidak mendengar pembicaraan kami. 

“Kalo aku.....aku akan menikah..bukan karena umur, bukan karena teman-temanku sudah beranak, bukan juga karena omongan para tetangga-tetangga, bukan pula karena adekku segera melangkahiku...!. Tapi...aku akan menikah karena Allah sudah Ridho..dengan orang dan waktu yang tepat. Itu kalau aku!” kulepaskan rengkuhanku.

“Dan satu lagi, terlambat bukan alasan untuk dapat seada adanya lho,Nob” tambahku.
Hm...semoga temanku ini mengesudahi galaunya.

“Eh Re,serius mau nulis?” Nonob memulai arah pembicaraan lain.

“Hmmm....” tanda setuju. 

“Kamu mah baru 2 hari di rumah, coba ntar tabungan mulai menipis, seperti aku jadi galau. Bensin aja aku harus minta ke Ibuku. Kalau beli apa-apa sekarang pikir-pikir.”

“Iya sih, mungkin ga’ murni nulis juga, sembari ngajar gitu. Kan aku pemula belum tentu bisa menghasilkan duit jadi harus cari sambilan laen.”

“Ngajar? Di mana? Mau dong..!”

“Privat aja yang waktunya luang, oke tar kalo’ aku dapat murid lebih dari satu aku kasih ke kamu deh.”

“Oke,sip!”

Dalam batin aku mengiyakan ucapan Nonob. Semakin jauh, pasti akan semakin berat.  Idealisme semakin terkikis, kepercayaan diri memudar, optimisme surut,galau menghadang setiap hari, galau karena hidup tidak jelas atau sekedar karena belum juga dilamar orang. Tapi...makasih ya Nob, buatku itu peringatan sedari awal, aku tidak boleh menyerah! Buatku itu peringatan untuk lebih siap siaga.

“Padahal Re, aku baru mau belajar toefl dari kamu lho.”

“Belajar gimana, orang toeflku aja 465 doank. Target awal tahun ini harusnya bulan ini toeflku udah mencapai 500-550 lah..tapi gagal.” 

Tiba-tiba muncul ide di benakku.

“Eh, kamu ga’ ada kegiatan,kan? Gimana kalau tiap hari kita share belajar Toefl bareng?” ajakku.

“Boleh-boleh.” Nonob mengiyakan.

“Mulai besok?”

“Oke oke.” Jawab Nonob bersemangat. 

Setidaknya harus memaksimalkan waktu dengan kegiatan-kegiatan yang positif,pikirku.
“Eh Re, mau aku ajari makan gratis? Besok ada pelantikan Gubernur, orang-orang bebas makan sepuasnya, mau?”

Apa itu efek nganggur? Batinku. Fine...Sepertinya aku harus membiasakan diri dengan kata “Pengiritan”&”gratisan”.

“Oke..oke...mau juga aku ajari cara ke Singapore gratis?” tantangku balik.

“Mau!gimana cara?”

“Gini... ada kompetisi neh....bla...bla...bla........”

Dan kami pun larut dalam obrolan antar orang-orang jobless.....yang masih mau menyalakan harapan. Aku menyadari satu hal, ini bukan soal keberhasilan. Ini lebih kepada bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Mencintai diri sendiri, sebagaimana dengan mewujudkan keinginan diri dengan tidak membiarkannya terkekang oleh hal yang tidak diri kita suka. My Allah...I need my Allah everytime in my life..every breathing...every second and everywhere I am. Pls help me & guide me to find my way,amin.

Hidup Dengan Sedikit Benda

Baru-baru ini saya menyadari bahwa saya terlalu banyak mencemaskan benda-benda yang saya miliki. Terlebih benda yang benar-benar saya...