December 31, 2013

Malam Tahun Baru Rei

Rei menatap mata Teddy Bear di hadapannya.  Mencoba mentransformasikan apa yang ada di pikirannya.  Si Teddy layaknya boneka sejati, tak bergerak pula tak bernafas. Tapi mata Teddy seolah menatap balik ke Rei, dia mengerti kegalauan yang tengah melanda tuannya.

“Kau tau aku menggilai kembang api?” kata Rei, akhirnya. Tangannya menekuk kepala Teddy untuk membuktikan bahwa dia tidak sedang berbicara sendiri.

“Dan kau tahu setiap malam pergantian tahun aku selalu menikmatinya?” kembali Rei menganggukkan Teddy.

“Kembang api itu menyimpan harapan banyak orang, dia hanya dimunculkan dalam acara-acara tertentu, simbol kebahagiaan. Bahkan, kembang api itu mutlak kebahagiaan, tak seorang pun pilu ketika melihatnya, bukan?” Teddy hanya terdiam.

Rei berhenti berkata beberapa saat.  Sisa angin malam dalam kamarnya perlahan menelusuri pori-pori, merasuk membalut hatinya yang tengah kalut.  Malam ini tak akan ada kembang api, bahkan dalam imanjinasi Rei. Rei enggan melihat kembang api, untuk pertama kali dalam hidupnya Rei merasa, keindahan kembang api itu semu. Semua hanya sesaat.

Sama seperti Radar, yang datang lalu pergi. “Untuk apa datang bila untuk pergi” berkali-kali Rei bergumam, terus mengulang-ulang kata-kata itu. Tengah malam sebagai titik pergantian tahun belum lewat, Rei masih dirudung kecemasan antara pergi melihat kembang api atau mendekam dalam kamarnya yang sunyi bersama Teddy.

Kali ini tidak ada 2 setan, tapi ribuan setan bergeming menggelayuti otaknya.  Rei di hadapkan pada dua pilihan, melihat keindahan sesaat atau menghentikan kecintaanya terhadap kembang api. Tapi justru kegelisahan itu membuat Rei terpaku, tak bergerak.  Kakinya seolah terpaku seperti raganya yang lemah tanpa harap.

“Jadi apa yang ingin kau kenang di tahun 2013 ini, Rei?” sebuah suara tak bertuan mencuri perhatiannya.

“Tahun 2013 mungkin menjadi salah satu tahun terbaik dalam hidupku,”

“Kenapa?”

“Banyak petualangan liar, banyak perubahan drastis, banyak pergantian hati, mindset, plan, dan banyak jatuh bangun di akhirnya,”

“Ada yang kau sesali di tahun ini?”

Rei terdiam.  Ia terbiasa menjawab dengan lantang ‘Tidak’ untuk semua model pertanyaan seperti itu.  Rei tidak suka menyesal, betapapun pedih dan sakit yang dia rasakan. Namun, kali ini Rei diam, Rei ragu untuk menjawab ‘tidak’.

“Adakah yang kamu sesali di tahun ini?” tanya suara itu lagi.

Rei masih terdiam.  Perlahan butiran bening mengalir dari muara penglihatannya.  Rei menerawang, entah kemana.

“Iya..ada yang aku sesali,” kata Rei pasrah.

“Apa?”

“Aku menyesal atas peristiwa 2 bulan terakhir ini yang tak bisa kuselamatkan. Aku sungguh, sungguh menyesal...” Rei menangkap butiran air mata yang hampir menetes dari sudut dagunya.

“Itu yang membuatmu terdiam di ruang sempit ini? itu yang membuatmu enggan melihat kembang api?”

Rei terdiam, dia sendiri tak mengerti apa benar yang dikatakan suara itu, apa benar dia tak berani melihat kembang hanya karena rasa penyesalan itu?

“Baiklah, ceritakan hal paling indah di tahun ini,” ucap suara itu, mencoba mengalihkan perhatian.

Rei tersenyum lalu berkata,

“Aku mencoba hal baru yang tak pernah kucoba seumur hidupku, lalu aku menuruti kata hatiku untuk mencari kebebasan dan melakukan apa yang aku inginkan, dan aku....mengenal Radar Langit.”

“Radar Langit? Rumahmu ini?”

Rei mengangguk.

“Baiklah, ada baiknya kau lupakan masa lalu pahitmu, lalu menyusun plan baru untuk tahun 2014,” kata suara itu penuh kebijakan.

Rei menggeleng. Ini belum selesai.

“Aku belum siap bertemu 2014, banyak hal yang belum selesai di tahun ini, andai aku bisa mengembalikan waktu,”

“Owh, itu bukan Rei yang kukenal, tak mungkin Rei berucap seperti itu,”

“Kau tahu, tahun ini aneh, aku merasa menjadi diriku sendiri, aku benar-benar merajai diriku sendiri, melakukan apapun yang kumau, tapi.....di akhir-akhir aku merasa tidak menjadi diriku, itu seperti bukan aku, itu bukan aku....” mata Rei menerawang.

“Itu kamu...itu kamu yang lain, yang belum pernah kamu lihat sebelumnya, jangan kau benci dirimu yang seperti itu,” telinga Rei menyimak setiap kata yang dia dengar, namun matanya masih melihat jauh, menyesali masa lalu.

“Kau tahu Rei, pengenalanmu terhadap dirimu sendiri tak akan pernah berujung, dalam dan jauh, bahkan sangat jauh, kau tak akan pernah bisa bilang kamu adalah A.  Selama kamu masih bernafas dan hidup di dunia ini selama itulah perjalanan pencarian diri yang harus kamu lalui.  Diri seseorang adalah keabadian misteri yang oleh dirinya sendiri tak akan pernah tersibak, orang hanya bisa melihat beberapa sisi karena sisi yang lain dinamis terus berubah, bergejolak.”

“Apa dia membenciku?” akhirnya Rei berucap.

“Siapa? Radar?”

Rei mengangguk.

“Selama kamu masih percaya padanya, selama itu dia akan menjaga kepercayaan itu,menurutku dia terlalu baik untuk membenci,”

“Hmm...mungkin.”

“Menurutku pertama kau harus menolong dirimu sendiri terlebih dahulu dengan memaafkan semua kesalahanmu sendiri, dan tak ada hal lain yang lebih baik untuk dilakukan selain memperbaiki masa depan, biarkan Radar memilih jalannya sendiri, dia cukup matang untuk melakukannya,”

Setiap dia mendengar kata Radar, air matanya kembali mengalir.  Tetap saja penyesalan itu masih menghantuinya.

“Tuntaskan kepedihanmu malam ini, waktu tak bisa menunggu.  Percaya badai pasti berlalu, percaya doa tak memisahkan jarak, percaya keajaiban Tuhan masih ada,” Rei bisa merasakan suara itu berputar mengitari tubuhnya.

Rei mengendus ke dua telapak tangannya.  Mencoba menguasai diri dengan menarik nafas dalam-dalam.  “Ya Allah, jadikan aku sebaik-baiknya wanita, jadikan aku wanita yang kuat, sabar dan salehah, yang kuat atas semua ketentuan-Mu. Ampuni kelemahan hati ini Ya Allah.....”

Rei memejamkan mata, kembali menarik nafas dalam-dalam. “Amin....”

Dentum suara kembang api mulai berdatangan, Rei memang tak melihat bagaimana percikan api itu melesat ke angkasa lalu merekah dan jatuh kembali ke bumi dalam serpihan abu. Tapi Rei merasa harapan itu masih ada.

December 30, 2013

Ramenya Rasa “Penjaja Cerita Cinta”





Judul Buku          : Penjaja Cerita Cinta
Penulis                 : @edi_akhiles
Penerbit               : Diva Press
Tahun terbit        : 2013
Jml hal                  : 192

“Penjaja Cerita Cinta”, judul buku itu menyimpan seribu tanya di kepala saya, apa gerangan kira-kira isinya? Apakah seorang cowok playboy yang doyan berkata-kata? Owh, atau mungkin cerita mengenai seseorang yang suka menjajal berbagai kisah asmara? Kurang lebih begitulah tanda tanya besar dalam otak saya. Coba-coba menerka, tapi setelah  saya buka, saya telusuri kata per kata, semua imajinasi saya ambyar....pyaaarrr....! unpredictable!

Sebuah imajinasi menarik yang dibalut siratan makna dalam kemasan bahasa yang puitis. Penulis cerdas memainkan diksi. Bahkan saya harus bersabar mencerna makna per kalimat akibat diksi yang digunakan tidak biasa dan tidak bisa saya terka. Pun saya tidak terpikir akan menggunakan kata pengganti model semacam itu jika saja saya yang menulis. 

Jika ada sesuatu yang bisa melekat sedemikian pepatnya hingga tak ada seutas detik pun yang sanggup melepaskannya dari denyut jiwa manusia, pastilah itu sebuah kenangan. Bukankah semakin memberontaki kenangan justru ia akan menyelinap tak terbendung ke ruang-ruang terdalam jiwa?

I will say “ Ya”, banyak kebenaran-kebenaran dan kegalauan problematika kehidupan manusia yang tertangkap dan tersaring di “Penjaja Cerita Cinta”.

Membacanya sudah membuat darah saya panas, mulai dari kepiawaian dan kekayaan permainan diksi, imajinasi cerita yang tak terduga dan penuh kejutan, cerita kesetiaan yang mengharukan dan menghanyutkan, dan ending yang menurut saya......

...... Diam-diam dadaku kian sesah dihujam dera malu pada diriku sendiri yang laki-laki, yang tak pernah memiliki kekuatan kesetiaan, yag telah membiarkan wanitannya yang sepi menjadi patung di akhir ceritaku.

Naaah..! itu, itu dia. Dapet ke saya! Ending yang menurut saya briliant bin kece, setelah fase kesetiaan dan deruan kerinduan yang dihadirkan sang wanita senja. Mulanya saya berfikir , kasihan sekali wanita senja itu, tapi makin jauh saya baca saya jadi sadar betapa wanita senja itu bisa jadi siapa saja di kehidupan sekarang dan mungkin juga saya termasuk salah satu di antaranya.

Setelah kepedihan, lalu kecemasan dan  di berilah ending briliant yang menetralisirkan segala keruh cerita. Ending yang dihadirkan penulis adalah bentuk jawaban andai saya yang menjadi wanita senja itu. Dalam sebuah penantian dan kerinduan saya merasa ada yang salah, mungkin bagi sebagian orang penantian dan kesetiaan itu adalah suatu kebodohan, mungkin yang lain berkata itu adalah pengorbanan, atau apapun itu tapi menurut saya, ada ‘andil laki-laki’ di dalamnya. Itu pula yang selama ini menggelayuti pikiran saya. Dan penulis berhasil menjadikannya kunci sekaligus mengurai jelas kegelisahan yang selama ini saya rasakan. Jempol ah!

Salah satu ucapan penulis yang masih saya ingat adalah “Memberi siratan pesan moral” dalam setiap cerita yang dibuat. Setelah saya khatam membaca “Penjaja Cerita Cinta” saya percaya ternyata apa yang beliau katakan dapat pula beliau buktikan. Penulis pandai menyisipkan pesan moral dalam bentuk banyolan konyol sekalipun.

Tapi harus saya akui, saya butuh nafas yang lebih panjang ketika membaca satu kalimat yang terlampau panjang. Dan itu banyak saya temui di cerpen pertama yaitu ‘Penjaja Cerita Cinta’ itu sendiri.

Membaca kumpulan cerpen ini seperti menelusuri seluk beluk kehidupan melalui berbagai cara pandang.  Tapi ada garis jelas yang dianut meski cerita, pilihan kata, cara ceritanya sangat variatif. Garis jelas tersebut mengembalikan semuanya ke jalur semula, jalur hakiki dari hakekat kehidupan manusia.

“Cinta yang Tak Berkata-kata”. Membacanya saya merasa sedang bercermin. Ada beberapa part yang hampir serupa dengan kisah yang saya alami, hehe.  Yah, saya jadi ingat bahwa saya pun ‘ingin diperlakukan sebagai kekasih yang nyata, bukan sekedar puisi cinta dan kata-kata belaka’. Terima kasih sudah diingatkan!

“Dijual Murah Surga Seisinya”. Awal kisah yang ringan namun bisa enak diceritakan dengan siratan makna mendalam. Setelah membacanya saya jadi hitung-hitungan, bila saya berak kurang lebih 2x sehari dan setiap kalinya saya butuh waktu 5 menit, artinya setiap hari saya berak 10 menit. Dalam seminggu berarti saya berak 70 menit. Sebulan berarti x 4 = 280 menit, setahun berarti 280x 12 =3360 menit. Di kalikan umur saya 26x 3360 = 87360 menit. Dijadikan jam = 1456 jam = 60 hari. Artinya waktu yang terbuang untuk berak saya seumur hidup kurang lebih adalah selama 2 bulan. Hahahaha memang konyol tapi bisa diaplikasikan ke penghitungan yang lain juga, kan? Tujuannya untuk kita renungi apa benar kehidupan kita sudah aplikatif dan sudah maksimal? Atau jangan-jangan kita terlalu banyak membuang waktu ketika mandi, ketika bermain, nonton TV? Bila penghitungan berak hanya 10 menit sehari dan totalnya mencapai 2 bulan seumur saya, bagaimana dengan waktu menonton TV? Coba dibuat perkiraan, hitung paling sedikit 2 jam, dan rasakan berapa banyak waktu terbuang hanya untuk menonton TV seumur hidup kita? Kemasan ceritanya ringan, tapi lihat efeknya setelah membaca!

“Secangkir Kopi untuk Tuhan”, salah satu favorit saya. Penggambaran mengenai kehilangan dalam balutan cerita yang unik. Betapa banyak manusia yang berlarut-larut dalam kehilangan, dan cerita ini adalah salah satu perwakilan dari seluruh cerita kehilangan.

Tuhan, sejak dari Sepang tadi, aku membawa secangkir kopi, kutinggalkan kopi ini di sini, di rumah Mu, semoga ada seseorang yang berkenan meminumnya untuk melepas dahaganya, dan bila itu bernilai pahala di sisi-Mu, tolong berikan kebaikan pahala itu untuk Simoncelli....Amiinnn....

Kehilangan adalah bentuk pembelajaran akan keikhlasan, tapi kebaikan dan niat yang tulus untuk seseorang tidak akan bisa dipisahkan oleh jarak maupun perbedaan alam. Pesan, saran serta cara pandang terhadap ‘kehilangan’ berhasil penulis hadirkan secara ringan dan mudah dipahami melalui ‘Secangkir Kopi untuk Tuhan’.

“Menggambar Tubuh Mama”, hmm...saya tidak bisa cerita banyak, saya mrinding. Ceritanya berani!

“Tak Tunggu Balimu”, banyak pengetahuan di sini, I like it, saya jadi tahu Ricoeur dengan 2 kata kunci hermeneutisnya yaitu what is said dan the act of saying, lalu istilah korpus terbuka, yang sebelumnya belum pernah saya dengar. Pada kata kunci what is said dikatakan bahwa sebuah teks akan terus menciptakan pergeseran makna dari pembaca pertama alias penulis sendiri ketika jatuh ke tangan pembaca kedua dan selanjutnya. Yang penasaran bisa baca sendiri “Tak Tunggu Balimu”, tapi tenang, ceritanya tidak seberat siratan pelajarannya kok, jangan dibayangkan saya sedang belajar ilmu praktis lho.

Favorit saya yang lain adalah “Cerita Sebuah Kemaluan”, ya unpredictable aja bisa terbesit ide dari sebuah kemaluan.

Saat Horny beginilah, ingatanku tentang pertanyaan lama “Mengapa kelaminku hanya satu?” kembali melambai-lambai bak nyiur di pantai yang tak pernah capai.  Andai dua, tentu saat ini punn aku kan bisa langsung memuaskan hasrat seksualnya pada diriku sendiri : satu kemaluan dengan kemaluan lainnya yang sama-sama ada padaku.

Saya suka ide gila, liar dan nakal (mbeling). Hebatnya (ini yang patut saya salutkan dari penulis) adalah klarifikasi yang selalu penulis dihadirkan :

“Andai masing-masing kita punya dua kemaluan, pastilah kita akan entengan untuk tidak menjadga malu kita.  Sebab kalaupun satu kemaluan itu terkuak malunya, masih ada serep satu lagi, kan?”

Ini menjawab kontra dalam diri saya antara menyukai ide-ide liar dengan tanggung jawab moral yang harus diemban setiap manusia (termasuk penulis). Keduanya bisa digabungkan, haaaa senangnya nemu konsep begitu. Thank you Sir...... (standing applause...hurriah...!!!)

Lalu “Abah I Love You & Lengking Hati Seorang Ibu yang Ditinggal Mati Anaknya”, dua cerita yang membuat saya tercenung, Kalau saya pribadi dulu waktu SD tidak berfikir mengapa saya dikekang, karena saya dulu merasa memang semua orang tua seperti itu (itu juga saya lihat dari teman-teman saya), yang terpikir malah ‘mengapa orang tua saya tidak kaya sehingga saya tidak bisa membeli buku paket sekolah? Mengapa saya tidak berganti seragam baru selama 2-3 tahun sedang teman-teman saya selalu ganti? Mengapa saya tidak dibelikan sepeda sementara semua teman-teman saya punya?  Baru sekarang saya mengerti, memang orang tua saya pas-pasan, tapi dari itu justru saya jadi kuat, punya mimpi dan harapan untuk membalik keadaan. Yaah...kita sering menyadari hikmah setelah kejadian berlalu, mungkin hakekat manusia hidup memang seperti itu, untuk hidup dan mengambil pelajaran hidup.

“Si X, Si X, And God”, Thank you to make it easier to understand Sir , :D

Buku ini berkelas sastra, karenanya menurut saya layout yang dihadirkan terlalu ramai untuk ukuran buku sastra.  Begitu juga menurut saya, tulisan Pak Edi biarpun dikemas dalam versi apapun tetap berkesan kuat, sehingga secara pribadi saya berandai bila font yang dipilih juga jenis font kuat seperti TNT, Bodoni MT, Book Antiqua, Courier New, agar lebih menyatu dengan kelas tulisannya.

Membaca buku ini serasa menelusuri berbagai rupa kehidupan.  Bukan hanya menikmati sastra melalui rangkaian kata, tapi juga banyak sekali makna pembelajaran tentang kehidupan yang bisa pembaca petik sekaligus merubah mindset.  Yang ingin benar saya tiru adalah cara penulis menyisipkan siraman rohani dan pesan moral yang begitu halus.  Bagaimanapun juga penulis adalah orang yang membuat saya merenung, mempertentangkan antara kebebasan tulisan sebebas-bebasnya versus sisipan pesan moral.  Kedua hal itu sempat berperang dalam diri saya karena di satu sisi menurut saya tulisan adalah salah satu bentuk kebebasan, tapi penulis juga benar, ‘melakukan sesuatu yang disukai dengan lebih banyak memberi manfaat itu jauh lebih baik’.

Terakhir, buku yang bagus menurut saya adalah buku yang bisa merubah mindset pembacanya dan membekas di hati pembaca. Dan buku ini berhasil melakukannya. Entah tadi saya sedang membaca, belajar kehidupan, belajar tulisan atau bercermin? Ah, entahlah, Nano-nano deh! Rame rasanya!
 

December 23, 2013

Detik yang Baru

Tiba-tiba aku berhasrat ingin menulis tentang masa lalu.  Menceritakan seseorang ex-boyfriend, tapi aku sanksi apa masih bisa aku sebut dia ‘mantan’, karna sepertinya kami tak pernah pacaran, hanya bermain status. Tulisan ini hanya sebuah persembahan untuk pernikahannya. Wujud doaku untuk menjadikan pernikahannya sakinah, mawadah, dan warrahmah, amin.

Aku ingin bercerita sedikit mengenai pertemanan singkat kita beberapa tahun lalu.  Saat itu saat di mana aku sakit keras, aku takut Tuhan akan segera memanggilku, dan dalam balutan rasa tak karuan seperti itu, yang aku ingin tuntaskan hanyalah hutang-hutang dan rasa bersalah yang selama itu belum kutebus. Salah satunya, dia. Namanya Charis.

Sekian tahun aku berusaha menghindarinya.  Membiarkan dia dalam keterpurukan.  Tentu dia terkejut, kenapa aku yang selalu bersembunyi tiba-tiba muncul. Dia menangkap ‘ketidakberesan’ dalam niatanku.

“Aku main ke rumah ya?” katanya.
“Jangan...jangan...” balasku melarang.
“Kenapa?” dia curiga.
“Ga’ papa, pokoknya jangan,” tegasku.
“Besok aku ke sana!” ucapnya lugas.
“Jangan, kondisiku buruk, mukaku pucat, aku ga’ pengen kamu liat!” kataku akhirnya.
“Tuh kan, ada yang ga’ beres. Besok aku maen ke rumah pokoknya!”

Dan benar, dia datang setelah sekian tahun kami tak bertatap muka. Aku tak bisa bohong dengan kondisiku yang terlihat jelas dan tak bisa kututup-tutupi. Akhirnya aku pun bercerita, aku memang lagi sakit.  Shit, kuharap dia tidak girang melihat kondisiku!  Tapi benar dia pria yang baik, setelah aku sakit dia selalu berusaha menemani. Bahkan mengantarkanku cek darah. Mengecek obat-obat apa saja yang aku minum. Bak spesialis obat (memang anah farmasi sih) dia mendeteksi penyakitku dari obat-obat yang kukonsumsi.  Sepertinya bukan yang mematikan sekali, itu yang kutangkap. Di sela-sela pertemanan kami dia akhirnya menanyakan hal itu.

“Boleh aku tanya?”
“Hemm, apa?” duh, pasti tanya soal itu.
“Kenapa sih, dulu kamu tiba-tiba mutusin aku?”

Owh, gimana jawabnya, apa dia bakan benci aku? “Ee..itu karna dulu aku masih labil, biasa anak SMA, perasaannya ga’ jelas, kadang timbul kadang tenggelam, maafin aku ya,” aku berusaha jujur dan menguasai ingatan.

Aku tahu benar dari cerita anak-anak, kala itu dia sangat terpukul. Dan itu dosa terbesarku padanya. Bahkan sadis. Minggu pertama jadian, belum pernah pacaran, minggu berikutnya aku putusin. Mungkin butuh waktu lama untuknya sembuh dari keterpurukan, dan setelah sembuh, kini aku harus hadir lagi?! Engga’!!! jangan pernah kamu mau balikan sama cewek macam aku Ris, yang ngga’ bisa menghargai perasaan, yang ga’ bisa menguasai diri seperti dulu. Aku pun bila diposisimu sudi untuk baik-baik sama orang yang sudah mencabik-cabik perasaanku, apalagi balikan! Kamu harus cari cewek yang baik.

“Berarti kamu sekarang berubah, ya?” tanyanya.
“Berubah gimana maksudnya? Kuperjelas arah pertanyaanya.
“Udah mau bicara sama aku, dulu suka menghindar,” jleb.
“Sekarang aku sudah besar, sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang engga’, sudah bisa mengontrol diri dan emosi, yang dulu itu kan pikiran anak-anak SMA,” belaku. Lebih tepatnya, Maafin aku...
“juga sekarang pakai jilbab,” tambahnya
“Apa aku ga’ pantes pakai jilbab?” tanyaku balik.
“Pantes kok, bagus malah, aku suka cewek berjilbab,”

Dia menjadi saksi jilbab minimalisku. Maksudnya, jilbab yang aku pakai asal-asalan karena baru beberapa hari aku mengenakannya, dan aku tak tahu cara mengkreasikannya.  Malah dia bilang nanti lama-lama pasti aku terbiasa. Aku baru sadar sekarang dulu jilbabku pasti aneh.

Ris, sekarang aku udah pandai pakai jilbab, model apapun! Hehe

Dan selanjutnya kita berteman dengan sangat baik. Bahkan dia sangat baik.  Mengontrol kesehatanku, mengecek perubahan obatku, memilih mana yang boleh kumakan dan mana yang tidak. Lebih tepatnya, membiarkan harapan kehidupan gadis sepertiku, yang dulu pernah menyianyiakannya pun pantas hidup. Menepis rasa kekecewaan dan sesal dan berusah baik, dia baik.

“Laper ga’?”
“Kamu mau makan apa?” tanyanya.
“Gimana kalau Mie ayam atau Bakso, aku suka,”
“Mending Bakso, itu lebih sehat karena ada dagingnya, tapi ga’ boleh pake’ caos ma sambel,” jelasnya.
“Iya Pak Dokter,”
“Aku bukan Dokter,” balasnya.
“Iya Pak Mantri,”
“Itu juga engga’!” dia mulai kesal.
“Pake’ caos sedikit ya, please...hambar tau ngga’ pake’ caos,” ucapku memohon.
“Iya, dikit aja ga’ papa,”

Entah kenapa di saat aku sakit, pikiranku berubah jernih, dan ada 2 hal yang selalu ingin aku lakukan pada saat itu.  Memainkan gitar lalu bernyanyi dan membaca buku. Sakitku saat itu membuat tanganku gatal ingin memetik gitar, akhirnya berusaha keras aku kumpulkan tenaga untuk memetiknya dan bernyanyi, dan kurekam. Dia meminta rekamanku, entah buat apa. Mungkin kenang-kenangan andai nyawaku tak tertolong (ups, maaf atas pikiran liar kala itu). Tapi ternyata beberapa tahun hingga 2013 aku masih hidup.

Lama-lama kondisiku membaik. Kelegaan hati, ketenangan hati ternyata adalah syarat utama sehat. Lalu kami sering bercerita, tentang pekerjaanku di radio yang baru saja kutinggal, tentang kuliahnya, tentang kekasihnya yang sangat islamic, tentang kondisiku, tentang mimpiku, tentang apapun. Dia terlampau baik untuk ukuran orang yang pernah aku permainkan. Bahkan dia mau menjemputku pagi buta untuk mengantarku test CPNS (itu pertama dan isyaAllah terakhir dalam hidupku, he) yang letaknya jauh di dekat Unimus. Bahkan dia bersedia menungguku berjam-jam hingga test usai.

“Sapa tuh?” tanya Agus, Gilang dan teman-teman sembari melirik Charis yang berjarak 2 meteran dari kami. Rupanya keunikan test CPNS adalah sebagai ajang reuni, di sana satu jurusan dari berbagai generasi terkumpul dalam satu tempat dan satu wadah.

“Bukan, temen,” balasku menjelaskan.
“Wuu temen kok mau-maunya nganter ma nunggui test, kalo’ aku mah ogah!” balas mereka. Sial!
“Iya, matan, mantan....” kataku akhirnya.
“Tapi sekarang cuma temen,” tambahku.
“Eeeciee...yang test ditunggui mantan,” goda mereka. Haduh....
“Parah lu Re, manfaatin mantan buat antar jemput,” kata Agus,
“Bukan, dia menawarkan kok,” belaku.
“Kenalin kita-kita dong..” kata mereka. Akhirnya aku mengenalkan, lalu kutinggal mereka mencari teman yang lain. Entah apa yang mereka obrolkan, obrolan para pria.

Kukatakan lagi, dia pria yang sangat baik. Ucapannya selalu lembut, tenang dan hati-hati. Aku tak pernah merasa dia mantanku, karna tak ada guritan kisah asmara yang berhasil kami tinggalkan dulu. Aku hanya mengingatnya dan mengenangnya sebagai teman yang baik (hingga sekarang).

Saat kita sama-sama mengajar les privat dalam satu rumah. Dia menjemputku dan kami sering mengulur waktu pulang, mampir ke jagung bakar asmara langganan kami.  Aku sudah mengurangi waktu nongkrongku selepas kuliah, tapi aku suka membunuh waktu dengannya.  Banyak kenyamanan yang tak bisa diuraikan mengapa. Bahkan Mbak penjual hapal dengan kami. Bahkan, pernah aku ke sana dengan temanku, si embak bertanya “Ngga’ sama masnya Mbak?” ah, pasti dia salah paham, kami cuma berteman. Aku tak ingin melukai prinsipku betapa aku tak rela dia menjalin ikatan dengan wanita yang pernah menyakitinya, seperti aku.

Dia mudah bergaul dengan siapa aja, penjual es, orang nongkrong di jalan, bahkan penjaga persewaan movie. Oh ya, dia yang mengajarkanku menyukai movie. Ceritanya, selepas mengajar, dia mengajakku mampir ke persewaan movie. Begitu masuk, penjaganya (yang masih ranum, ABG2 gitu) langsung sumringah, obrolan ringan mengalir di antara mereka.  Si penjaga melirikku sepertinya kurang suka. Ah dasar! Banyak sekali penggemarmu.

Ya, dia mengajarkanku memilih movie.  Lalu meninggalkan nomer kartu persewaanya, siapa tau suatu hari aku mau pinjam, pakai kartunya. Selanjutnya aku ketagihan, rupanya nonton movie itu menyenangkan!

Pertengkaran? Pernah. Tapi dia tidak pernah mengijinkan nada tinggi ada di antara kami.  Ceritanya, kala itu kami salat maghrib. Sudah sewajarnya pria dan wanita salat bersama, satu imam dan satu makmum. Itu menurutku wajar, dan aku selalu seperti itu dengan siapa saja. Tapi dia menolak. Dia minta kami salat sendiri-sendiri, alasannya tak bisa kuterima, dia tidak mau mengingimamiku. What?! Heloo..?! imam tidak harus jadi suami, kita temenan, imam-imaman ga’ masalah kan?! Ini kenapa jadi begini?! Aku merasa terhina. Sebenarnya apa yang dia pikirkan!?

“Kita pulang cepat ya, aku harus mimpin rapat remaja,” katanya usai salat.

Aku diam.  Tentu kesal, urusan imam-imaman tadi belom kelar! Aku masih tersinggung, apa maksud dia seperti itu, apa dia kira aku mengartikan ‘imam’ yang lain. Itu cuma salat, simple. Harusnya simple tapi dia berhasil membuat rumit.

Dia menangkap kekesalanku, diperjalanan bahkan aku hanya diam. Dia tanya, aku diam. Dia tanya, aku tetap diam. Akhirnya,

“Eh, kamu pernah minum es setup,” tanyanya lembut.
“Ngga’ pernah,” akhirnya aku bersuara.
“Oke, kita belok yuk, aku ada langganan es setup di sekitar sini,” ucapnya tenang.

Lho? Katanya tadi buru-buru mau mimpin rapat, kok?! Lalu dia bercengkerama hangat dengan si penjual es yang sudah lama dia kenal (ya, sepertinya dia kenal semua orang!) heran dia tetap calm down, seolah tak dikejar waktu. Mungkin sekawanan remaja di daerahnya sedang meraung-raung menunggunya.  Setelah suasana tenang baru dia bicara.

“Aku ngerti kamu marah soal salat tadi,” lalu dia menjelaskan mengapa dia seperti itu.  Aku coba masukkan persepsiku, aku menganggap itu hal wajar dan tak perlu di buat serius seperti itu dalam hal mengimami.  Tapi dia bilang itu prinsip, dia mau mengimami wanita yang kelak jadi istrinya. Aku berusaha menerima penjelasannya.  Kontra kami, dia berfikir A aku berfikir B. Tapi aku hargai cara dia menjelaskan, dan mengetuk pintu kekecewaanku. Aku merasa berarti.

“Udah ga’ marah ya?” katanya. Aku tersenyum
 “Tapi tetep ya, yang aku lakukan tadi sudah benar,” owh, kenapa kata-kata akhirnya itu. Ini orang lembut tapi sekali bilang A ya A. Sekalipun gunung runtuh!

Tapi yasudahlah, aku benar-benar disanjung dari caranya menenangkanku.

Kecepatan motornya beda dengan sebelum kami mampir minum es.  Kecepatannya tinggi, pasti dia mengejar rapat yang baru saja dia kesampingkan.

Cara dia yang calm down itu yang selalu aku ingat, dan ingin kutiru. Pernah usai mengajar aku uring-uringan, karna muridku kala itu susah, benar-benar menguras perhatian, tenaga dan emosi. Dia tetap lembut menasehati tapi yang diungkapkan itu inti. Membuatku berfikir ulang, owh iya ya harusnya aku mengajar dengan cara yang dia ucapkan, mungkin aku di balut target dan keadaan jadi tidak kepikiran.  Entah apalagi, mungkin banyak kenangan singkat pertemanan jilid ke dua kami. Yaitu pertemanan sebagai upaya perbaikan jilid pertama kami yang pernah aku hancurkan.  Dan aku lupa setelahnya kami kembali ke kehidupan kami masing-masing, aku sibuk bekerja di perusahaan baru, dia sibuk kuliah, lalu kerja dan aku lupa jejaknya. Cuma kami sesekali menghubungi jika dirasa perlu.

Ini untuk teman, bukan mantan. Karena pertemanan itu yang lebih melekat dalam ingatanku. Ini bentuk terima kasih yang beberapa tahun lalu menyelamatkanku dari keterpurukan. Ini sebagai bentuk peringatan kepada setiap wanita di luar sana, untuk menggunakan logika dan menghargai orang yang baik.  Juga untuk peringatan semua laki-laki di luar sana kalau kebaikan ketulusan dalam wujud apapun pasti membekas dalam ingatan seorang wanita.  Semua itu tak harus dibalut dengan cinta, semua itu tak harus berakhir dalam sebuah jaji suci pernikahan, tapi inspirasi yang dia tebarkan mampu menumbuhkan harapan seseorang bahwa dalam dunia yang carut marut ini, masih ada orang yang baik, manusia yang mau berbuat baik sekalipun itu untuk orang yang pernah menyakitinya.

Karenanya aku pun ingin menjadi wanita yang baik. Karena itu aku ingin membekas dalam ingatan dan menjadi inspirasi pada jiwa-jiwa yang sedang terguncang, jiwa-jiwa yang mulai kehilangan harapan, bahwa buktikan masih banyak manusia baik di dunia ini.

Pria yang banyak mengumbar cinta, mengumbar-umbar kata belumlah tentu mampu membekas dalam ingatan seorang wanita. Karna semua itu butuh niat yang tulus. Dan ini akan menjadi pelajaran berharga bagi hidupku, betapa aku tidak akan menyianyiakan pria baik. Aku akan mengupayakan yang terbaik jika lagi aku menemukannya, aku tak akan hanya menggunakan hati tapi juga logika. 

Aku jadi sadar, apapun kebaikannya tak akan pernah bisa aku balas. Tapi aku bisa meneruskannya melalui perbuatan baik pula. Kebaikan hanya bisa dibayar dengan kembali menebar kebaikan. Karna kebaikan itu tak ternilai, tak akan bisa terbayarkan.

Ris, beberapa waktu lalu (tahun kapan aku lupa)  kau sempat cerita betapa susahnya jalan hidup, tapi dengan ini semoga kamu tetap percaya bahwa arti kehidupan itu masih ada. Dengan tahu kehadiranmu bermanfaat untuk orang lain semoga kamu tak berhenti menjadi manusia baik betapapun susahnya.

Selamat menempuh hidup baru ya, aku yang paling tahu bahwa kamu tidak sedang meminang seorang wanita, tapi kamu sedang mengikrarkan orang itu menjadi satu-satunya ratu di kehidupanmu. Sukses selalu, semoga bisa mengendalikan bahtera rumah tangga dengan baik, menjadi imam yang baik dan selalu menjadi manusia yang baik.

Hidup Dengan Sedikit Benda

Baru-baru ini saya menyadari bahwa saya terlalu banyak mencemaskan benda-benda yang saya miliki. Terlebih benda yang benar-benar saya...