20 Desember 2012

Perempuan perempuan Redaksi


Mendengar dan mentransformasikan “Dimensi dalam Dimensi” ibarat membuka kotak harta karun kehidupan yang sejauh ini berhasil saya simpan rapat-rapat.  Apa yang bisa saya tulis untuk “Dimensi dalam Dimensi”?  mungkin sebuah pengejawantahan rasa melalui para  “Perempuan Perempuan Redaksi” ini.
Tema ini bukan privatisasi bukan pula egoistis.  Hanyalah sekedar pilihan! Ini bukanlah penggusuran aktivasi dan skill kaum lelaki. Bukanlah pula diskriminasi. Banyak juga kok lelaki hebat diredaksi, sebagai contoh katakanlah, bang Ershad Yanuar. Seseorang yang saya kenal sebagai satu satunya wartawan Dimensi yang mengalirkan kata melalui darahnya.  Entah mengapa unsur jurnalistik sangat kental terasa dalam setiap tulisan yang beliau buat.  Saya curiga jangan-jangan partikel dalam tubuhnyapun terusun dari huruf dan kata. Hal itu pula-lah yang membuat saya  mengirim pesan singkat untuk beliau (sekitar 2 atau 3 tahun lalu, saya lupa! )
Aku iri dengan darahmu. Kata saya.
Diapun membalas  Aku iri dengan semangatmu” balasan yang sempat membuat senyum saya mengembang. 
Tapi tetap saja, hingga hari ini,detik ini, saya masih iri dengan darahnya!
Diluar persoalan darah mendarah, saya rasa beliau tak cukup piawai menulis sastra. Bahkan hingga saat ini saya masih heran mengapa cerpen pertamanya lolos terbit di buletin DIMENSI. Kurang bagus! Itu menurut saya (maaf Bang Ershad J).  Tapi diluar itu semua, saya anggap Bang Ershad sebagai seorang journalist, even you’re good journalist! (Diluar dari pelik kontroversi majalah edisi 38 yang orang sebut sebagai majalahnya karna hampir seluruh artikel yang ada adalah karyanya, Saya tetap menganggap beliau lebih elegan sebagai jurnalis independen atau  katakalah  wartawan lepas).
Berbicara mengenai majalah 38 yang bertema DJ’s life, setelah saya baca kembali ternyata reportase yang disuguhkan kurang mendalam.  Bahasan yang ada tidak seperti tujuan awal mengapa tema tersebut diangkat.  Sebenarnya pada saat rapat pembahasan tema majalah, saya sudah menyiapkan satu tema “Pasar Traditional VS Modern” yang kalah dan kemudian malah diangkat menjadi tema tabloid. Banyak pelik, problemtika dan polemik dalam majalah 38 yang menjadikanya kontroversial. Terbitnya majalah kedua yang berjudul “ Polines In Nowhere” bak penawar atas racun DJ’s life.  Dari mulai tema, artistic, picture, dan isian artikel di dalamnya diselaraskan dan tak dilepas dari esensi pers mahasiswa. 
Penerbitan majalah pertama bagi sebuah angkatan mejadi kendala dimana diharuskan beradaptasi pada structural baru.  Pun begitu yang terjadi pada majalah selanjutnya yang tak lain adalah angkatan saya, & dadang dkk. Majalah 40 dengan tema “Pasang Surut Pendidikan” yang setelah saya tilik kembali ternyata kabur dari frame tema itu sendiri.  Bahasannya kurang tajam dan temanya amat luas.  Namun, kami sudah berupaya maksimal kala itu, biarpun setelah 5 tahun berlalu bagian cacat itu begitu terasa.  Memang, menilik history menjadi salah satu upaya perbaharuan hidup.  Mempersepsikan masa kini dalam persepsi masa yang akan datang. Itu masukan tersendiri bagi saya!

Lalu dimana para perempuan-perempuan redaksi? Mereka ada pada tahun dan bagiannya masing-masing.  Saya melihat para perempuan redaksi lebih kepada kecintaan mereka akan dunia tulis menulis, bukan akan posisi mereka secara struktural. Diakuikah? Tinggikah? Terkenalkah? Atau mungkin disaluti oleh beberapa angkatankah? Bukan esensi tersebut yang saya bangun dari tulisan ini.  Tapi para perempuan yang mencintai rangkaian huruf dan tak sengaja kutemui di negeri Dimensi. Bagi saya ini soal tulisan, bukan keorganisasionalan.

Dimulai dengan teh Agatha,
Lewat ini dan dengan segala kerendahan hati saya meminta maaf kepada teh karna kelancangan saya mengcopy ide pembuatan buku THIZISME.  Yang benar terjadi adalah perkiraan sekitar 2 bulan setelah peluncuran THIZISME, saya menerbitkan sebuah prosa liris berjudul It’s all about you. Berbeda dengan THIZISME karya ini privat dan hanya dicetak 2.  Maafkan saya teh.. peace! Tapi isinya jelas berbeda hanya konsepnya saja yang saya copy.
Diluar rasa bersalah, saya mengenal beliau sebagai satu–satunya perempuan redaksi yang mahir bermain feature.  Paling tau bagaimana menyentuh hati lewat kata dan bagaimana meniupkan roh dalam tulisan yang membuatnya seolah bernafas.  Satu bagian yang masih terasa sulit untuk saya adalah mencapuradukan unsur kesederhanaan, kejujuran dan keikhlasan dalam sebuah cerita, dan itu saya pelajari darinya.  Semua karyanya lepas, independent,cenderung ke sastra modern &prosa liris. Tak ada 5 W 1H layaknya sebuah berita, soft news/feature news,apalagi hardnews. Buat saya dia adalah salah satu penulis independen, yang punya gaya tersendiri. Ada hal lagi yang saya ingat. Kala itu sedang booming film “Merah itu Cinta”yang dibintangi oleh Marsha Timoty.  Olehnya, ketenaran kata “Merah itu Cinta” ditampik secara halus, sederhana namun rapih dengan sebuah cerpen berjudul “Hitam pun Cinta”.  Cerpen tersebut menggeser posisi cerpen Mitha yang sedari awal kami pastikan akan mengisi kolom sastra. 
Cerpenmu kalah sama punya mb Agatha, tha ...” kata Bang Ershad kepada Mitha saat itu. 
Masa’ sih! Pikir saya pula tak percaya.
Iya deh re, bagusan punya Mb Agatha, coba deh km baca” Kata Mitha sendiri. Langsung saya buka folder sastra dan kutemukan “Hitam pun Cinta”hmm.. begitu sederhana, rapi namun dalam. Sampai–sampai saya harus menitihkan airmata.  Begitulah teh Atha, sangat pandai memainkan rasa. Saya mengharapkannya menjadi novelis dan hingga saat ini saya masih menunggu sebuah novel baru muncul dengan namanya sebagai pengarang. Tapi kapan teh?

Dilanjutkan oleh Mitha,
Seperti yang tersebut sebelumnya,“Mitha” dengan nama komplit Armitha Cahya RH adalah teman sekaligus partner seperjuangan saya di Dimensi, bahkan jauh sebelum kami tau dan kenal Dimensi kami telah mengenal satu sama lain.  Dialah yang pandai bercerita melalui kata, menciptakan kehidupan melalui cerita serta ulung memainkan alur pula plot cerita.  Mitha kuat di story.  Dia tau benar bagaimana membentuk percakapan menjadi hidup dalam sebuah cerpen, tau bagaimana memunculkan konflik dan bagaimana mengakhirinya dengan sempurna.  Dia senang memasukkan dialog langsung dalam sebuah cerita. Itu satu - satunya hal yang slalu saya hindari karna saya tak piawai merangkai dialog langsung.  Pikir saya lebih aman menghindarinya.
Satu yang masih saya ingat sewaktu kami duduk di Bangku SMA. Saya tinggal bercerita mengenai kisah saya kepadanya dan dalam jangka singkat kurang dari 1 minggu, sebuah buku tulis full of my love story ada dihadapan saya.  Sejak itu saya berfikir dia adalah seorang penulis cerita kiriman Tuhan (hehe). Berbicara mengenai Mitha tak akan pernah ada habisnya.  9 tahun kami bersama melalui hari berbagai warna.  Dia satu satunya partner reportasi yang entah berapa kali telah kami lalui bersama.  Bahkan hampir dari seluruh hasil reportase saya ditemani olehnya. Sebagai ganti, saya akan menemaninya menyelesaikan reportase. Begitu cara kami menyelesaikan Job Dim’s . Tanggung jawab tetap kami pegang sendiri tapi secara lapangan kami saling menemani. Saking seringnya kami berburu berita bersama, kami punya beberapa pengalaman lucu dan unik yang akan selalu terkenang.  Kejadian unik yang sering kami alami adalah kaset rekaman habis atau recorder yang berhenti merekam akibat baterai melemah saat wawancara tengah berlangsung.  Padahal tak urung narasumber kami termasuk orang – orang penting.  Yang masih kuingat tajam, kala itu tengah berlangsung wawancara bersama Prie GS salah seorang budayawan sekaligus pimpred tabloid Cempaka dan penulis dengan salah satu buku terbitannya “Hidup itu keras, maka gebuglah”. Seingat saya sebelum kami tiba dikantor tabloid Cempaka kami sudah mengecheck secara menyeluruh berbagai piranti yang akan kami gunakan. Bahkan saat kami menunggu Redaksi Cempaka selesai meeting saya cek recorder berkali-kali, dan saat wawancara berlangsung menjadi bukti bahwa prepare kami kurang maksimal. Dan yang membuat kami bertambah malu adalah saat Prie GS berkata “Kenapa? Baterainya habis ya?” duh. Kenapa harus Prie GS? Kenapa bukan saat wawancara anak jalanan, atau pedagang pasar, atau siapalah asal bukan para raja tulisan.  Sepertinya beliau saat berpengalaman dan mengerti sekali kendala-kendala reportase. 
Beda lagi saat kami mewawancarai salah satu alumni Polines yang dari tampangnya masih tak beda jauh dari kami.  Saat itu permasalahnya seputar tender atribut warna illegal. Yang lucu, kami sering mengulang pertanyaan yang sama.  Di awal saya tanya tentang A, selesai di jawab Mita mengulang lagi pertanyaan tersebut, dan sebaliknya.  Tambah anehnya lagi bukan membenarkan arah pertanyaan malah spontah kami bersitegang “Lho tha, kan tadi aku dah tanya itu” kata saya memotong wawancara “lho iya ta” balas itha. Mas mas narasumber terheran melihat kami saling adu argumen sendiri (heheheh menurut saya kami kurang professional, hmf). 
Kami mewawancarai berbagai kategori orang, sastrawan, penyiar, politikus, birokrat, budayawan, komunitas, dan lain-lain. Kami memotret berbagai gerak gerik kehidupan, tokoh, alam, jalan, pasar, rambu-rambu, plang nama, yang esensinya belum tentu tercetak di produk Dimensi.  Perjalanan pulang dari berkelana kami sering mencari warung makan mie ayam yang enak tapi murah. Mie yang  kami makan saat itu tetap terasa beda dengan mie-mie yang saya makan sekarang, rasanya selalu terkenang.

Dan dikolaborasikan oleh Putri Nurwita dan Mila
Putri adalah seorang yang saya kenal memiliki hati dan passion terhadap tulisan. Putri lebih fleksible menghadapi rangkaian kata. Bisa menjadi hard news, feature news, feature, dan sepertinya beberapa sastra, hanya saja saya kekurangan referensi soal sastra buatannya.  Di mata saya putri  akrab dengan feature news. Dan suka dengan isu sosial. Saya dan dia lahir di tahun yang sama namun menghadapi tahun yang berbeda, oleh karenanya saya kurang memahami betul bagaimana putri. Kami pernah melakukan reportase bersama, tapi hanya beberapa kali.  That’s Putri! She’s simple, “easy going/take it easy” person & independent.
Dan terakhir yang ingin saya sebut adalah Milla H.Zahra. Begitulah dia menuliskan namanya di account FB.  Mengingat nama Mila H Zahra saya jadi teringat satu hal. Dahulu ketika saya PKL seorang staff karyawan di perushaan tempat saya PKL bertanya “Cita-cita mau jadi apa, dek?” kontan saya jawab Penulis,bu!” tegas saya. “waah bagus donk, namanya saja sudah seperti penulis ..” lanjut beliau menyebutkan nama panjang saya.  Saya sadar ungkapan itu tidak mengandung keseriusan, tapi saya membuatnya unik karena setelahnya saya mulai berfikir, apa nama saya pantas terpampang dalam sebuah buku sebagai pengarang? Kemudian iseng saya berfikir nama-nama lain yang kiranya pantas terpampang.  Semua nama saya masukkan, Putri Nurwita, Amitha Cahya , Ershad Yanuar, Wahyu setyadi, Mila H Zahra dan bahkan Pilih Kondang Paramarta…ha dan semuanya.  Ternyata nama-nama tersebut cukup unik dan pantas-pantas saja andai kata kelak menjadi penulis besar, hahahahaa... sebuah hal kecil yang tidak terlalu penting tapi unik bagi saya.  Karena hal itupula saya menuliskan nama saya full tanpa samaran disetiap account social yang saya miliki.  Pemahaman saya adalah itu salah satu bentuk promosi dimana nama saya secara perlahan diingat oleh masyarakat kebanyakan.
Back to Mila.  Jujur saya kekurangan referensi mengenai tulisan Mila. Bahkan untuk menulis tentang Mila saya harus membuka kembali majalah terbitan angkatannya.  Secara keorganisasionalan kami terpaut 2 tahun jadi tak banyak interaksi langsung yang kami lakukan, bahkan untuk sekedar reportase.  Saya melihat Mila sebagai sosok yang pandai dalam tulisan.  Satu yang saya suka darinya adalah dia bisa berfikir lebih dari orang biasa fikir(itu menurut saya).  Salah satu cerpennya yang pernah saya baca sangat imaginatif, mungkin dia menyukai hal–hal absurb.  Bila di implementasikan kedalam sebuah karya, yang muncul adalah Buku-buku sejenis Harry Potter, atau karya sastra macam Tetralogi Akar dari Dee (Dewi Lestari).  Soal sastra sendiri, saya tidak banyak menemui karya sastranya.  Mungkin celotehannya di fb bisa dikatakan sebagai salah satu sisi kecil sastranya Mila :P  Beda kan update statusnya Putri dan Mila :D
Dimata saya Putri dan Mila adalah para indie writer.  Mereka sangat kuat pada ide, dan lebih diperkuat pada gaya bahasa. Mereka juga rapih dalam mengeksekusi ide menjadi tulisan. Saya mengakui ide tulisan mereka lebih kuat dari tulisan saya.  Secara pribadi pula saya lebih suka menyebut mereka sebagai independener dibandingkan idealiser karena, dalam kaca mata saya idealis terdengar dekat dengan egois. Suatu paham yang mementingkan diri sendiri, menganggap dirinyalah yang benar dan memandang rendah pemahaman oranglain.  Jadi Putri dan Mila itu independen dan bukan Idealis, buat saya! Seperti halnya crew dimensi yang lain secara pribadi saya lebih prefer dengan kata Independen dibanding Idealis. 

Begitulah Dimensi, bukan hanya di isi oleh mereka saja yang aktif dalam setiap kegiatan, atau para pakar-pakar organisasi yang mungkin banyak disebut-sebut dan di elu-elukan namanya dari tulisan teman-teman yang lain.  Tapi juga orang-orang yang mencintai huruf dan kata semenjak mereka lahir. Yang turut mewarnai dan mengisi produk Dimensi. Yang pada awal kali melihat Dimensi sebagai rumah yang selama ini mereka idam-idamkan. Dan entah apa kata dunia! Penghianat, pecundang, penakut, looser atau apalah! Tak mengurangi kecintaan mereka akan huruf dan kata yang memang sudah terbangun semenjak mereka hadir di dunia ini. 
Anggota Redaksi memang bukan hanya 5 orang seperti yang saya sebutkan diatas, tentulah banyak dan mungkin tak bisa saya sebut satu persatu, tapi semua anggota redaksi memposisikan diri mereka sebagai reporter dan writer yang baik.  Slalu berusaha menulis sesuai koridor dan kaidah tatanan bahasa (meski banyak yang harus di edit) dan berusaha memenuhi renggang waktu deadline yang ada.
Bila mana saya ditanya mana yang lebih saya sukai saat menjadi reporter ataukah sebagai Pimred saya akan kembalikan pada koridor fungsionalnya.  Menurut saya keduanya memiliki arah dan tujuan masing-masing walaupun tetap dalam satu wadah&satu tatanan yang sama.  Saat menjadi reporter saya merasa lebih bebas berekspresi, memaksimalkan ide dan menginterpretasikannya dalam bentuk tulisan.  Bisa dengan kata lain, lebih fokus pada hal tertentu.  Sedangkan menjadi Pimred itu adalah pembelajaran ketidakegoisan hidup,plan control management yang tak luput dari deadline. 
Untuk “Dimensi dalam Dimensi” itu sendiri saya harus membuka seluruh produk Dimensi yang saya punya.  Majalah dan tabloid saya baca kembali, saya malah baru teringat pernah menulis beberapa artikel yang saya sendir lupa. Lho pernah nulis ini toh? Ko’ begini yah? Knp arahnya seperti itu? Kenapa ga’ tak lanjutin lebih dalam? Duh parah banget editannya, wew bahasanya uiIhhh,,,,haahahah gila neh article!! Begitulah exspresi yang saya dapat.  Memang banyak kekurangan, dan tidak sempurna apalagi itu hampir 5 tahun berlalu. Tapi join di Dimensi adalah sebuah pembelajaran dan pengalaman hidup, karena Dimensi adalah sebuah miniatur kehidupan. Because -The Purpose of life is to live it, to taste experience to the utmost, to reach eagerly without fear for newer and richer experience

20 November 2012

PROSPEK BISNIS OL PADA KARYAWAN INDUSTRI



Dunia digital atau sering disebut dengan duniaya maya memang mengalami perkembangan yang pesat. Dahulu ketika saya masih duduk di Sekolah Dasar (1999- kebelakang) tak satupun murid di SD saya memiliki Handphone. Dulu yang lebih terkenal adalah telephone rumah, bahkan kami sering mencatat no telephone rumah teman-teman. Herannya saya hafal nomor-nomor tersebut diluar kepala karena saking sedikitnya. Sedikit rasa bangga terbesit karna saya hidup dalam masa peralihan. Saya bisa merasakan langsung dan membandingkan manfaat sebelum dan sesudah adanya perkembangan teknologi.  Keberadaan handphone mulai muncul ketika saya menginjak Sekolah Menengah Pertama (SMP) namun yang punya masih jarang, hanya komunitas tertentu ( anak dari keluarga berada) saja,  itupun bukan tipe canggih seperti smartphone maupun fiture phone yang full MP3, GPS, ANdroid, dengan kamera 8G.  Handphone teman saya ketika itu sejenis NOKIA 2100, NOKIA 3315 yang kala itu sangat nge-tren dan mentereng (terkadang saya kangen dengan HP 2 jadul tersebut). Handphone pertama saya adalah Samsung yang masih berantena dan itu saya dapat ketika masih duduk di bangku SMA.  Orang -orang disekitar sudah mulai merambah beralih ke Nokia 6600 Nokia 3630 Sony Ericson T316 dll. Kala itu Nokia 6600 masi seharga 4jutaan, sekarang jumlah tersebut sudah bisa mengantongi galaxy tab 7.0. 
Rupanya peralihan yang saya alami bukan hanya soal telepon genggam, Keberadaan komputer dan social networkig pun mengalami hal serupa.  Dahulu piranti digital tersebut merupakan barang langka namun sekarang menjadi kebutuhan.  Pergolakan Tehnologi terkhusus digital memang meroket.  Orang tak lagi asing dengan Email, FB, Twitter, IPAD, youtube, YM. Hal tersebut tak lepas dari peran perusahaan terkait dan media yang turut mempopulerkan.
Seiring berkembangnya piranti teknologi, berkembang pula aktivitas aktivitas di dalamnnya. Dimana orang berkumpul memang bisa dijadikan sebagai lahan mata pencaharian.  iklan online dan toko online mulai tumbuh perlahan, Hal yang pada awalnya belum mendapat kepercayaan penuh dari masyarakat sekarang mulai diminati, Para pembisnis jeli melihat ceruk pasar online. Mereka memanfaatkan media Website, blog facebook dan media social networking lainnya.  Saya sendiri yang dahulu kurang minat menjadi tertarik untuk mencoba belanja online.  Barang pertama yang saya beli online adalah Buku dari BukaBuku.Com.  Karena masih takut kena tipu saya hanya membeli 2buah seharga total sekitar 80ribu. Ternyata memang benar aman akhirnya saya mulai merambah membeli produklain seperti pakaian, asesoris dll. Belanja online saat ini memang sangat tidak asing bagi saya maupun rekan rekan saya satu daerah, walaupun memang ternyata banyak juga dari teman saya yang masih gaptek, atau mungkin kurang percaya dan tidak berminat karena dipikir mblibet.
Saya tinggal di daerah Ungaran daerah dimana industri sangat berkembang. Bahkan anda bisa menemukan macam macam perusahaan industri dengan jarak 5 meter (kadang bersebelahan kadang sedikit jauh). Disekitar rumah saja ada sekitar 3 perushaan yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 2menit. Blum lagi jalan raya Ungaran -Bawen mungkin ada sekitar 20 perush. jumlah tersebut masi ditambah dengan perushaan daerah Pringapus - Karangjati dengan jarak yang hampir berhimpitan. Perusahaan ditempat saya bekerja itu sendiri memiliki karyawan kurang lebih 3000 orang, padahal ini adalah perusahaan cabang ke3 dari pusatnya yang ada di Ungaran.  Dari 3000 karyawan tersebut tentulah mengenal interet barang sedikit.
Tehnologi digital memang sudah merebak keseluruh lapisan masyarakat, pun begitu dilingkungan kerja saya.  Aktivitas-aktivitas sosial sudah banyak diterima dan dijalankan oleh karyawan.  Bisa dihitung berapa orang yang tidak memiliki account fb dalam 1 perusahaan, pastilah kecil jumlahnya.  Macam handphone pun bervariasi sesuai perkembangan.  Tak heran BB & Galaxy yang awalnya digandrungi oleh orang-orang kelas tertentu kini hampir setiap operator (karyawan produksi) menggunakannya. Posisi tersebut tentunya akan terus berkembang sesuai era perkembangan teknologi. Namun, memang perkembangannya tak secepat pada lapisan mahasiswa dan kelompok lain yang memiliki kebebasan akses secara lebih luas.
Aktivitas jejaring sosial memang berkembang dilingkungan karyawan namun untuk aktivas lain seperti belanja on line maupun berjualan online masih belum bisa berjalan secara maksimal.  Permasalahanya adalah keterbatasan pengetahuan, waktu dan ketidakpercayaan. Sempat saya bertanya kepada beberapa rekan rekan karyawan mengenai pernah tidaknya mereka melakukan transaksi secara online baik menjual ataupun membeli barang.  Dan kebanyakan dari mereka menjawab tidak pernah. Alasannya simple, tidak tahu caranya dan takut kena tipu. Padahal bila kita melihat dari segi perkembangan digital itu sendiri, akan semakin pesat. Ceruk market seperti para karyawan tersebut alah salah satu lahan yang bisa dimaksimalkan.  Dalam kaitannya dengan dunia digital itu sendiri, para karyawan memiliki dua sisi baik positif maupun negatif.Dari segi positif disini karyawan memiliki kematangan secara finansial.  Tentunya kondisi tersebut berpengaruh pada mampu tidaknya mereka terjun dan mengakses dunia maya.  Hal lain dikarenakan mereka padat kerja, menyebabkan mereka berminat pada aktivitas-aktivitas yang mudah dan praktis tanpa banyak mengeluarkan tenaga serta waktu.  Kedua alasan tersebut cukup mendasari mengapa keterbatasan akses dari karyawan perlu di perhatikan dan ditindaklanjuti.  Segi negatifnya, yaitu para karyawan tidak memiliki pengetahuan lebih mengenai aktivitas didunia maya mencakup bagaimana cara melakukanya, bagaimana bertransaksi secara aman dan apa pula manfaatnya.  Keterbatasan pengetahuan serta akses untuk menjadi karyawan berpengetahuan menjadi salah satu PR yang perlu dibahas dan dipecahkan bersama.
Bisa dibayangkn berapa penambahan jumlah pengguna internet apabila para karyawan industri benar-benar bisa dimaksimalkan?   Untuk satu perusahaan saja memiliki kurang lebih sekitar 3000 karyawan, bagaimana dengan jumlah seluruh karyawan industri di negeri ini yang mana memiliki tipikal / kondisi permasalahan yang hampir serupa? Memang jumlah tersebut tidaklah akan tepat sasaran secara keseluruhan, namun dengan pembinaan dan arahan yang baik, deviasinya akan semakin kecil.
PELUANG BISNIS BERJUALAN OL
Sebelum menentukan suatu usaha memang terlebih dahulu harus menguji kelayakan pasar serta produk yang akan dipasarkan.  Pada pembahasan sebelumnya menjelaskan bahwa Karyawan industri memenuhi beberapa kriteria sebagai sasaran bisnis. Diantaranya kemampuan finansial dan keterbatasan waktu sehingga memungkinkan adanya potensi perkembangan kepada aktivitas-aktivitas yang berbau praktis. 
Pelaku bisnis bisa menangkap peluang tersebut serta memaksimalkanya.  Pelaku bisnis disini meliputi para provider internet, penjual pulsa, penjual dan pembeli online itu sendiri. Pengoptimalan peluang disini bisa dengan cara memberi kemudahan dalam praktik penggunaan internet baik dari segi teknis maupun ketersediaan layanan yang lebih praktis.  Misalnya akses menuju toko online bisa dicapai dengan mudah dengan menggunakan HP tipe menengah. Hal lain adalah dengan cara melakukan promosi secara menyeluruh dan menunjukkan step-step untuk mengakses yang tentunya dengan lebih praktis lagi.  Dalam upaya pendekatan dan pembinaan para pengguna internet tidak ada salahnya bila para penyedia layanan internet juga turut andil dalam upaya membina dan mengembangkan aktivitas para penjual online maupun menggerakkan karyawan untuk berjualan online.






15 November 2012

PASSPOR PERTAMAKU

141112

Kemarin saya mengurus passport (lebih tepatnya tinggal foto saja) ke Kantor Imigrasi Krapyak .Susah bener deh, mulai dari ijin kerja yang bribet, lokasi kantor yang jauh dan belum lagi saya tak tahu menahu alamat tersebut.  Setelah nyasar dulu ke Manyaran (tujuan asli harusnya ke Krapyak) dan menelusuri jalan2 sempit melewati rumah penduduk, akhirnya sampai juga ke Jalan Siliwangi.  Setelah perlahan-laha saya telusuri sembari membaca tulisan disekeliling akhirnya ketemu juga fiuh...
Saya datang 30 menit lebih awal, janjian dengan mb2 yang nomornya saya dapat dari biro saya.  Setelah bertemu dengan embak2 tadi saya disuruh menunggu diruang tunggu. Di dalam ruang tunggu ternyatas sudah penuh orang, dengan celingak celinguk menatap sekitar berharap ada yang saya kenal (pastinya gak kenal semua) akhirnya saya menemukan kursi kosong di deretan nomor 2.  Kembali mata saya mengitari seluruh ruangan karena penasaran. ceritanya itu pertama kalinya saya ke kantor imigrasi, sebelah kiri ada tempat untuk foto, heran tempat fotonya terbuka jadi kita bisa diphoto sembari diliatin orang2 (ati2 kalo narsis pasti ketauan!) dan sebelah kanan ada mas2 (lumayan ganteng) dengan 1 buah meja kursi dihadapannya sepertinya itu untuk proses wawancara. Samar saya dengar suara mas2 ganteng tadi rada meninggi, keras, sedang, meninggi keras, dan sedang kembali persis seperti orang menginterogasi.  Pasti itu mas mas yang diceritakan Tyas teman saya. Katanya "entar km di wawacara sama mas2 yang sebenernya lumayan cuma sok teu nyebelin gitu" . Owh itu orangnya kali ya. Saya kemudian langsung membayangkan mungkin mas2 ganteng tadi beban mental karna harus mengecek alasan orang keluar negeri satu persatu, siapa tahu ada koruptor atau teroris yang mau melarikan diri dan dia disalahkan karna memberi kmudahan dalam pembuatan passpor.
Ternyata kantor imigrasi tak sebesar yang saya perkirakan. tempatnya sempit bakan mirip kantor kecamatan di daerah saya. tapi ternyata ruangan pembuatan passpor ada beberapa, Si embak2 yang mendampingi saya tadi mengajak ke ruangan lain yang mirip dengan ruang antrian Rumah Sakit, tapi disana sedikit beda, ada nomor antrian dan urutan pembuatan passpor dengan sistem pemanggilan nomor yang sudah modern seperti di Bank, ruangan untuk photonya pun tertutup begitu pula ruang wawancara.
Lagi2 saya disuruh menunggu, dan si embak pergi lagi tak tahu kemana.  Diruang tunggu bermacam-macam karakter orang bercampur dalam 1ruangan ada 1 rombongan ibu - ibu yang sya perkirakan itu adalah calon2 TKI, ada juag anak2 muda semi stylist saya kira itu pasti mahasiswa,dan ada juga PNS kalau ini bisa ketauan dari seragam yang mereka kenakan. Masuklah 2 orang yang satu bule dan 1 lagi muka indo, cew dengan tinggi kurang lebih 157cm kulit hitam rambut lurus. secara muka sih orang yang melihat pasti mengira gadis desa, taksiran saya sibule pasti pacarnya mereka terlihat sangat akrab.   Si cew mondar mandir mengurus beberapa syarat sedangkan mas2 bule asyik duduk sembari bermain HP.  Sesekali saya bisa mendengar mereka bercakap2 dengan bhs inggris, si cewek berkulit hitam rupanya masih kikuk berbahasa Ingg.  Tak hanya saya ternyata beberapa orang diruangan juga curi curi pandang kearah mereka.
Cukup lama menunggu tiba - tiba datang seorang pasangan muda chinese, si cew chinese emg cantik, kulit putih, tinggi semampai, dan berambut lurus, sedang si cow chinese lebih sedikit berisi dengan rambut hitam lurus, berkacamata dan mkannya kategori lumayanlah.  Beda dengan saya yang sudah menunggu selama berjam-jam, si cew chinese langsung bisa masuk ruang foto dan si cow nunggu diluar. saya heran mengapa saya sendiri yang tidak dipanggil2 mana mbk2 yang harusnya bantu saya malah menghilang.
Pukul setengah 3an barulah si embak yang membantu saya bikin passpor kembali dan bertanya apakah saya sudah difoto. Mukanya heran, masa daritadi saya belum difoto, karna curiga si embak langsung inspeksi mendadak ke ruang foto dan kejadian parah, sial , bete, apalah itu namany itupun terjadi. jadi....ternyata.....si cew chinese yg kebanykan senyum dan polos dan super duper putih itu foto dengan berkas saya. Petugas Imigrasi tidak bertanya terlebih dahulu sebelum memfoto dia, asal jepret aja. walhasil rusak document sya, padahal as info dari bag imigrasi document tersebut langsugn meng-link ke pusat (Jakarta) jadi mau tak mau kami harus menunggu balasan pengembalian data dari Jakarta. OMG, ya Allah, andai tidak selesai hari ini gimana ? Si embak yang mengurus passpor saya pun berusaha menenangkan saya yang sedang panik. "Duduk dulu mb, verifikasinya lama lho" kata si embak. Gimana bisa tenang untuk mecapai kantor imigrasi saja perjuanganku bukan main, mulai dari nyari2 alasan buat ijin tidak kerja, belum lagi berangkat kesasar, seandainya tidak bisa foto hari itu terus kapan lagi? apa yang harus saya reasonkan ke tempat kerja??? apa!!??? tumpahlah air mata saya, huft terdenganr sedikit lebay c
Sya harus menunggu sampai setengah 4 untuk memastikan document benar2 tidak bisa proses hari itu juga. Hasilnya memang mengecewakan, tak ada cara lain selain harus kembali lagi untuk re ulang foto.bah!
Perjalanan pulang saya gundah gulana, dongkol, kecewa semua campur aduk, sampai - sampai saya nyasar. Perasaan saya warga situ situ saja, bertahun tahun tinggal di Ungaran tapi kenapa bisa nyasar? mungkin karena pikiran saya yang tak karuan. Entah kenapa tiba - tiba saya di PRPP kemudian tiba - tiba di Johar. Ya Tuhan kalau tidak bisa keluar dari Semarang bisa bisa saya pingsan di jalan karena kecapaian.
Yang paling saya cemaskan, reaksi Bokap kalau mendengar saya pulang tidak membawa hasil sama sekali. Sesampai dirumah setelah mampir sebentar ke Tembalang untuk istirahat dan makan saya cerita ke Bokap, sepertinya beliau sangat cemas, dari saya berangkat sms tanya keadaan saya berkali-kali. Dan benar, reaksi bokap pasti deh dikait-kaitkan dengan masalah agama "Iki tandane Gusti Allah ora kerso" artinya ini berarti Yang Maha Kuasa tidak ridho.  Bukan maksud saya tidak percaya kepada sang Khalik tapi pasti deh semua hal ditanggapi dengan cara seperti itu.  Saya jadi kikuk sendiri, jadi maksudnya rencana saya untuk berlibur tidak di ridhoi Allah? tapi kenapa ? kenapa berlibur tidak boleh? kalau sudah begini saya jadi resah sendiri, pikiran ngaco kemana- mana. Jangan-jangan nanti pas liburan kenapa-kenapa, wush positive thingking saja lah. Emg kadang bokap sering negative thingking dan berperasaan aneh -aneh gitu.
Waaa saya harus nyari waktu lagi neh buat balik ke kantor imigrasi.
*additional info saya pakai biro habisnya jadi 500ribu (pas gak pakai kembalian)

8 Oktober 2012

I hate sprue!


It has been 3 days for me not talk with people around. There is sprue in my mouth.
I can't eat also, just little with forced of course.  I miss when I can speak loudly, singing, hunting some foods with friend and talking with friends. I realized one thing, that become a dumb is bad.
I bring note to everywhere I go then write and show to the people who I want to talk about.  Felt fortune that nowadays there are so many ways to be happy, even not everything should be told. We can avoid to speaking directly, we can use BB, SMS, chat and etc.
owh I imagined some of my favorite food such bakso, steak, chicken noodle which definitely will hard to eat them all now. It felt like want to revenge to eat them all after healing this pain. I believe everything will gonna be alright after some days later, but I can't wait for that day! It is a misery. I want to finish the pain a soon as possible. That’s why I start to try some sprue medicine such "adem sari", "kenalog", vitamin c, "larutan penyegar cap kaki 3" but failed of all.
I become stress just because of sprue. I don't think that this small pain will annoy a human’s life.
Thus, this night after work, I will eat bakso, I mean I will force my self to eat it. I don't want this disease control me too much. I hope will not cut my tongue also (just imagination when the pain comes again).  From this ill I regret for one thing, I become so emotional with people around. How can you imagine that small disease will disturb your life and people around you?

Review Novel To Kill A Mocking Bird

Doc. irerosana Perlu waktu yang tidak sebentar bagi Amerika untuk mendewasakan diri, menerima bahwa warna kulit bukanlah sesuatu ya...